Minggu, 30 Agustus 2015

Lets Get Married

                Usia 25, umur dimana perempuan mulai diberondong dengan pertanyaan kapan nikah. Teman-teman SMA saya banyak yang sudah menikah, bahkan memiliki anak yang lucu-lucu. Lantas, apa saya tidak punya keinginan bisa seperti mereka?
                Siapa sih di dunia ini yang gak mau menikah? Jadi tentu saja saya pun ingin menikah. Hanya saja memang belum jodoh, dan saya belum siap. Jodoh, saya aja masih bingung dengan definisi ini. Ada sih beberapa yang ngedeketin (sok iya banget sih na, hahaha), mulai dari teman saat sekolah dulu sampe tetangga segala. Temen dari orang tua pun ada yang mulai mengenalkan anaknya (berasa jomblo menyedihkan amat yak, hiks *cry*). Kecengan mah jangan ditanya, ada banyak, lumrah kan kalo cewek cewek suka ngecengin cowok-cowok lucu, hehehehe. Cuma ya itu, Cuma sebatas deket aja, gak serius. Ada sih sebenernya satu yang mulai serius. Orangnya islami gitu, jadi doi minta langsung dikenalin ke ortu, mungkin bisa dibilang semacam ta’aruf gitu deh. Pas nonton film Aku, Kau, dan KUA, saya sukaaaa banget sama beberapa kisah cintanya yang menikah tanpa pacaran. Tapi pas ngalamin sendiri dideketin dengan cara gini kok saya malah gak suka ya? Dasar Cewek, hhihi *nyengir lebar*.
Saya akan geleng kepala kuat-kuat kalo ada yang bilang saya terlalu picky, pilih-pilih, tentu engga bener. Saya bahkan gak punya kriteria tipe idaman, meskipun kalo kecengan sih ada banyak, hehehe. Hayo jujur-jujuran saya yakin setiap orang maunya kelak nikah sama orang yang dicinta kan? Pun saya juga. Kelak saya pengennya nikah sama orang yang saya cinta dan tentu saja bisa saya percayai. Nah itu dia yang susahnya, mau nyari dimana? Seandainya ada yang jual di toko online, hehe.
                Kelihatannya saya ini adalah korban cerita-cerita dongeng, makanya jadi kepengen punya pasangan yang sayangnya  bener-bener tulus. Ketulusan, hal yang gak saya rasakan saat deket dengan beberapa cowok yang saat ini lagi deket. Setiap orang punya alasan masing-masing untuk menikah diantaranya dikarenakan alasan ibadah, ada yang karena takut umurnya terlalu tua dan dibilang gak laku, ada yang karena cinta, ada yang biar bisa having sex tanpa dosa, dan ada pula hanya karena biar ada yang ngurus (masa istri disamaain sama nanny?). Pengen deh punya pasangan yang bener-bener sayang, tanpa ada embel-embel alasan, apalagi karena physicly. Penampilan akan pudar seiring usia.

                Oke, maaf curhatnya jadi ngalor kidul gini, lanjut ke cerita yang tadi ya, jadi cowok yang tadi adalah teman saat SMA dulu, makanya saya minta pendapat sahabat saya Ayu. Ayu ini sahabat saya dari SMP, kebetulan kami satu SMP dan SMA juga. Ayu juga kenal dengan si cowok X ini. Saya minta pendapat Ayu tentang X, apa sebaiknya saya kenalin ke ortu atau tidak. Pendapat Ayu ternyata sama seperti Ibu saya, kalo saya belum siap ya mending jangan. Kalo dia sayang pasti dia mau nunggu. Kalo engga ya berarti bukan jodoh. Jangan menjadikan nikah seperti semacam target yang harus dikejar. Mendadak saya jadi inget dulu ada yang pernah bilang mau nunggu saya sampai kapan pun sampe bikinin lagu dengan nama saya segala eh sekarang udah happy banget sama istrinya *abaikan curhatan colongan ini, hahaha*. Bener apa yang dibilang Ayang Afgan (Ayang???) Jodoh Pasti Bertemuuu~~~. Berikut saya sertakan link yang cukup menarik untuk dibaca.





Sabtu, 29 Agustus 2015

Judging easily

Apa sih definisi orang baik dan orang jahat? Kenapa orang begitu mudahnya mencap seseorang bahwa dia baik, dia gak bener? Orang bertato dan Pemabuk adalah orang gak bener, itukan pemahaman yang mayoritas ditanamkan para orang tua?
Saya punya seorang kenalan, mas T. Ayah dan Ibu saya tidak suka kalau saya berteman dengan mas T ini, salah satunya karena dia bertato. Saya bisa memahami kekhawatiran orang tua  saya akan anaknya. Sepengetahuan saya, mas T ini sebenernya orang yang baik, saat saya cerita bahwa saya sedang belajar menyetir, dia menawarkan diri mengajari saya tanpa imbalan. Mas T ini tipe orang yang senang bercerita. Menurut ceritanya, sejak kecil dia tidak suka belajar, orang tuanya memiliki anak yang cukup banyak, sehingga kesulitan ekonomi. Sedari sd dia sudah menjadi kuli bangunan, dari upah sebagai kuli itu dia sisihkan untuk modal usaha membuka warung tenda pecel lele. Hingga kini usahanya sudah sangat lumayan menghasilkan, bahkan dia sudah tidak perlu bekerja, karena sudah punya pegawai. Meskipun gayanya slengean dan urakan, saya percaya mas T ini orang yang baik, kendati orang lain mencapnya orang gak bener.

Saya suka mengobrol dengan siapa pun. Kendati orang lain bilang mereka anak nakal atau orang gak bener. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari mereka. Saya rasa mereka hanya kurang beruntung, dilahirkan di lingkungan yang tidak ‘nyaman’. Betapa beruntungnya kita memiliki orang tua yang peduli jikalau anaknya berbuat salah dan selalu mengarahkan pada hal-hal baik. 

Jumat, 28 Agustus 2015

25

Semoga akan lebih banyak senyuman di tahun ini, amin. Aku percaya Engkau Maha Baik. Selalu ada pelangi indah diakhir badai.


Sabtu, 01 Agustus 2015

Song Cover (1) by Me

1. LDR




2. Cinta dan Rahasia




3.  Teka Teki




4. Someone Like You




5. Mantan Terindah



6. When You Love Someone



Minggu, 28 Juni 2015

Tuhan dan Keyakinan

                Bagi beberapa orang yang sering membaca tulisan-tulisan blog saya, tentu tau saya sering meluapkan curhatan-curhatan di blog ini, meskipun tidak jarang kemudian saya hapus lagi dari blog, hehe. Saya pernah beberapa kali menuangkan isi hati saya mengenai keyakinan yang saya anut, contohnya saya pernah bercerita bahwa saya pernah melewati fase fase tidak percaya Tuhan hingga akhirnya saya meyakini Islam. Beberapa sahabat saya sampai menangis saat itu ketika membacanya. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya hapus artikel tersebut dari blog.
                Saya aneh. Dari kecil saya merasa saya banyak sifat saya yang aneh. Salah satunya, saat anak-anak lain diminta orang tuanya untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung akan patuh. Sedangkan saya? Saya akan terus menerus penasaran kenapa sesuatu itu harus saya patuhi, harus dilakukan, saya akan terus bertanya kenapa hingga keingintahuan saya terjawab. Dan sifat tersebut tidak juga hilang hingga saat ini. Kenapa saya harus patuh pada Tuhan? Kenapa harus Islam agama yang saya peluk? Itulah pikiran yang saat itu pernah memenuhi kepala saya.
                Setelah bertahun-tahun masa pencarian Tuhan, setelah kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup saya, yang terjadi tidak dalam waktu yang singkat, akhirnya saya menemukan jawaban, labuhan akhir.

Saya mencintai Allah. Saya mencintai Islam.

            Saya meyakini Tuhan bukan karena konsep surga neraka. Saya mencintai Islam bukan karena saya lahir di keluarga yang menganut agama Islam. Semua yang saya yakini saat ini adalah buah dari pemikiran dan pengalaman yang panjang. Memang sulit untuk menjelaskan pada theis mengenai apa yang tidak dirasakan oleh atheis. Sesulit theis menjelaskan pada atheis bahwa Tuhan itu sesungguhnya ada dan maha baik.
                Saya bisa memahami pemikiran orang-orang yang tidak percaya Tuhan, karena saya pernah merasakannya. Saya juga sangaaat menghargai orang yang beribadah pada Tuhan dengan cara yang berbeda dengan saya (re:beda agama).
Ada orang yang suka music dangdut, jazz, hip hop, maupun music klasik. Semua masalah selera, apa yang disukai, berbeda beda, tapi pada hakikatnya semua music itu indah bagi penikmatnya. Pun dengan agama, ada yang meyakini begini dan begitu. Adalah HAK setiap manusia untuk memilih apa yang diyakininya.
Ngomong-ngomong soal keyakinan, saya pernah baca blog berikut ini. Blog mas pandji ini sukses bikin saya mewek tersedu-sedu. Saya suka dengan pemikiran-pemikirannya yang dituangkan dalam blognya. Meskipun tidak jarang pula saya tidak sependapat dalam beberapa artikelnya. Saya sangaat hargai. Manusia itu diciptakan berbeda-beda. Orang kembar saja tidak identik sama, iya bukan?. Apalagi soal pemikiran, tentu berbeda-beda pula. Pola pikir yang beragam, justru itu yang membuat manusia unik dan berbeda. Seperti Bhineka tunggal ika, keberagaman itu indah J.



Rabu, 20 Mei 2015

Manusia Berencana, Tuhan Menentukan

Manusia adalah pribadi yang tak pernah jera dengan ekspetasi, sungguh  berbeda dengan bola Kristal yang jatuh lantas tidak dapat kembali utuh. Ekspetasi-kecewa-ekspetasi-kecewa-ekspetasi seperti siklus yang tidak pernah ada habisnya. Kata ekspetasi sebenarnya merupakan salah satu serapan dari bahasa asing, yang kurang lebih bisa diartikan harapan atau pengharapan.

Tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari kita sering berekspetasi. Contoh sederhananya saat kita melihat iklan mie instant di televisi maka kita berekspetasi akan tampilan wah seperti yang kita lihat di tivi, namun saat  pesan di warteg ternyata tampilannya jauh berbeda, hehehe. Itulah salah satu contoh sederhana dari ekspetasi yang berakhir dengan kekecewaan.

Setiap manusia tentu memiliki banyak keinginan, itu merupakan hal yang lumrah. Namun tidak jarang hal yang terjadi berjalan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan maupun diharapkan. Kecewa? Oo, bukan sekali dua kali saja tentu pernah merasakannya.  Pada kenyataannya tidak jarang misalnya suatu ketika meski kita sudah berupaya sekeras mungkin, sematang-matangnya rencana kita, tetap saja tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Lantas apa sih sebenarnya rencana Tuhan dengan menggagalkan planning yang sudah matang terencana? Tentu ada hikmahnya kan ;)?

“Siapa pun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa (naluri mempertahankan diri)yang Allah ciptakan pada manusia. “ demikian kutipan kata-kata yang pernah saya baca. Setelah membaca kalimat ini saya yang akhir-akhir ini memang sedang dilanda rasa kecewa jadi merasa sedikit terhibur. Ternyata rasa kecewa pun adalah bagian dari sifat manusia yang merupakan selingan antara rasa gembira dan rasa senang yang dikaruniakan oleh Allah.

Mengapa rasa kecewa bisa hadir? Manusia bisa merasa kecewa apabila terlalu yakin apa yang ia harapkan maupun rencanakan akan terkabul (over self confident) tanpa dibentengi dengan kata “siap gagal” .

Perasaan kecewa sebenarnya bukanlah salah satu hal negatif. Dari perasaan kecewa kita bisa belajar memahami ekspetasi-ekspetasi orang lain pula. Memahami ekspetasi orang lain, inilah hal yang sulit kita pahami dan rasakan. Contoh sederhananya? Dalam beberapa situasi, misalnya untuk keberlangsungan suatu acara kadang kita berharap agar tidak hujan. Sementara di sisi lain banyak pula orang yang berharap diturunkan hujan, karena hujan merupakan sumber rejekinya (misal penjual payung dan jas hujan). See? Terkadang apa yang kita harapkan bertentangan atau justru malah menghambat keinginan orang lain yang lebih membutuhkan. Dengan belajar memahami bahwa ‘harapan/ekspetasi yang tidak terkabul’ bisa jadi itu merupakan hal yang terbaik bagi semua. Tentu kelak jika mengalami ‘harapan/ekspetasi yang tidak terkabul’ lagi kita tidak akan terlalu kecewa hingga berlarut-larut. Dengan siap gagal, saat kecewa karena harapan yang tidak terkabul, maka akan muncul keikhlasan disertai dengan hati yang lapang. Lalu bagaimana jika harapan justrU terkabul? Pun kita harus lebih bijak menyikapinya dengan bersyukur dan tidak disalurkan dengan sikap meledak-ledak pula.

Bersyukur saat kecewa merupakan sikap mengakui bahwa kita adalah manusia yang tidak lepas dari takdir Allah SWT.

Man Propose, Allah Dispose.