Tampilkan postingan dengan label Puitis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puitis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Somewhere Only We Know

Kepada engkau yang selalu berkata menyukai hujan
Meskipun  kulihat dimatamu ada cemas takut kebasahan
Selalu kusajikan senyum tulus terhangatku

Engkau takkan pernah tau
Karena tangisku tak membahana
Hanya isak tanpa suara
Tidak apa

Begitu banyak lagu yang kulantunkan tanpa gema
Mereka bilang alunannya menyesakkan jiwa
Namun engkau selalu mendengarkannya dengan terpana
Berulang kulantunkan meskipun terasa luka

Ajak aku tuan
Ke tempat dimana hanya ada bahagia
Mungkin di sana ada penawar duka
Kan kupersembahkan lagu jenaka
Tentu saja tanpa cerita tentang dia
Hingga aku terlupa akan pedihnya luka putus cinta




Sabtu, 26 September 2015

Sia Sia

Tolong jangan besar kepala
Kepada kata yang menjelma kita
Ada gores luka
Di pohon yang kau sayat dulu kala
Sudah lupa?
Andai kau tau pedihnya tak terkira

Mencintaimu itu sia sia
Karena segala ingin dan anganmu adalah sempurna
Aku terlalu biasa
Upaya upaya terkerasku pun dimatamu adalah biasa
Aku bisa apa

Jadi tolong, bisakah kau pergi saja?







Kamis, 09 April 2015

Dia Dian

Menyesap pahit perlahan
Bagai butiran nila jatuhi susu
Perlahan tapi pasti, berubah, merubah
Kutelan dalam dalam segala rasa

Engkau dian
Dian yang tak kunjung padam di kala senja menutup
Meski aku melantunkan nada nada dengan bibir mengatup
Tak pedulikah kau walau bibirku mulai bergemelutup?

Bagaimana mungkin bisa setenang air
Saat minyak dan panas berebut menunjukkan gaharnya
Perciknya hanya melukai



Minggu, 25 Januari 2015

Kopi

Kopi,
Begitu pahit, begitu hitam
Gelap nan legam
Disesapmu butir manis gula tenggelam
Aromamu begitu menghangatkan
Sehangat cuplik kenangan
Serasa baru kemarin malam
Ah, tetap saja begitu gelap nan kelam, tidak ada yang kelihatan

Kamis, 06 November 2014

Lantunan Malam

Mata tiada pejam
Riuh mulut meronce nyanyian
Sayup lembut suara membelai kesunyian
Pun malam ikut diam turut mendengarkan

Jemari lentik menggelitik si nakal
Meninabobokan segala kelelahan
Melabuhkan dekap ia pakarnya
Terkikis sudah rasa takut gelap
Hingga hanya damai lelap dirasa
Ah ibu, betapa aku ingin pulang
Rindu teramat akan lantunan malam di pangkuan

kadaluarsa

Mungkin hanya aku yang telat mengetahui bahwa janji juga bisa memiliki batas kadaluarsa.
Seperti roti kemarin lusa yang habis tanggal masa, terlihat manis, namun tengik dan berbahaya.
Ucapan-ucapan dalam frasa kata kita yang dahulu meluap-luap bagai buih ombak, namun lekas lenyap dihantam karam, tiada sisa.
Roncean nada-nada yang pernah melagu lembut hanya menyisakan embun di ufuk pelupuk.
Layaknya metafora dalam anyaman puisi yang sarat makna, terlalu sulit bagi akalku untuk menjangkaunya.

Sabtu, 06 September 2014

Flying Without Wings

Kendati tidak punya sayap, aku ingin tetap dapat terbang
Bukan hanya agar dapat menggenggam bintang-bintang impian
Namun juga agar bisa memandang semesta ciptaan Tuhan
Dengan sudut pandang yang lain, berbeda, keindahan kehidupan

Kamis, 04 September 2014

Cuma Tertulis, Unsaid

Tuhan selalu meletakkan jangkar kapalku di setiap koordinat yang tepat. Sama seperti yang sudah-sudah, ini hanya persinggahan, bukan labuhan akhir. Ada suatu koordinat yang hampir membuatku tenggelam, curam, lautan kata, ada koordinat yang lautnya tenang, yang sekarang sedang saya rasakan. Apapun koordinatnya, saya akui sama sekali tidak ada yang buruk, pun yang tercuram, semuanya memberikan pembelajaran. Terima kasih Sang Penulis Skenario terbaik, Engkau menyambungkan benang merah tiada mungkin tanpa sebab. Koordinat baru, bagiku kamu pulau, pulau indah yang kukagumi dari kejauhan, bukan karena parasnya. Semua tipeku nampaknya serupa, entah mengapa selalu luluh pada kebijaksanaan.
Jujur aku akui kepadamu aku jatuh hati, kagum.. Kamu baik, tidak seperti lautan kata. Tapi entah mengapa lautan kata tetap tidak terganti, aneh yah? hehe. Mungkin benar, "luka tersakitlah yang menggoreskan bekas yang mendalam hingga sulit hilang".
Sama seperti halnya kamu, pun bagiku keyakinan dan keimanan adalah harga mati, komitmen. Hal yang tidak mungkin. Jadi, anggap saja keberadaanku seperti bintang meski kadang terlihat, kadang tidak, tapi yakinlah selalu ada, melihat dari kejauhan, mengagumi dari kejauhan. :) 

Rabu, 03 September 2014

Perspective

You used to look at the cloud from down below. Now you can look at the sea from above the cloud. And you already got a new point of view. You know? it's important to see things from different point of view.
"a new perspective will give you a better understanding"


Minggu, 31 Agustus 2014

Angin Oktober

Ada embun di ufuk pelupuk
Kenapa sesakit ini?
Angin semilir pun tak terasa
Ini sudah september nona
Sampai kapankah engkau mau merengkuh daun daun yang sudah jatuh
Senja merekah sudah berubah gelap gulita

Menunggu ulat bermetamorfosa
Kukira secepat matahari berpindah menuju senja
Ulat yang mengais menaiki ujung pucuk teh
Lalu jatuh dibatas tangkai

Kemana kerelaan yang selama ini selalu engkau elu elukan?
Berdiri pongah melawan angin
Berkata engkaulah yang terkuat
Hanya topengkah?

Sebentar lagi oktober
Angin meniup niup tiap sudut dari barat hingga timur
Menurunkan para butiran tangisan awan
Mau sampai kapan?

Mencoba berdamai dengan keadaan

Minggu, 24 Agustus 2014

Habis hujan

Teriring seringai pelangi cantik setia menunggu di ujung hujan reda.

Pelangi hadir di waktu yang tepat
Tiada akan ia terlambat
Selalu ada, itulah janji Sang Penciptanya.

Tuhan, sang sutradara ulung
Penulis yang handal
aku percaya

Ikhlas


Pernah meyakini melepas merpati terbaik pasti akan kembali.
Keyakinan yang menguap layak bulir bulir sungai berevaporasi
Terhisap kering menyambut riang sang kemarau
Setidaknya terima kasih untuk pernah bertandang
Kepada suatu yang kehadirannya tidak menggenapkan
Pun ketiadaannya tidak mengganjilkan

Terlalu egois memang
Aku melabelnya dengan semestaku
Terlambat melabuh
Hingga yang tersisa hanyalah puing runtuh

Tuan dengan segala kemahaan
Yang mencintai segala detil kehidupan
Pencinta ketidaksempurnaan
Terima kasih teruntuk pembuat kenangan
Pemberi kado senyuman
Maafkanlah radarku yang sudah mulai rapuh




Senin, 18 Agustus 2014

Senandung Lelah


Mengejar matahari
Tak habis sehari peluh
Aku tetap cuma bisa menunggu
Layak bunga pukul lima
Bisa apa?

Tak bisakah sesekali ia datang saat gelap menyesap
Hingga hilang rasa takut lenyap
Sebesar aku mengiba sebesar senyum kian menyeringai
Mungkin jenaka pikirnya
Tak tahukah ada kalut dirasa disini?

Ah matahari, riang sekali
Peluh yang memerah 
Kau anggap penanda taat
Alangkah pongah
Tak dirasakah ku mulai lelah?

Minggu, 27 Juli 2014

Puji Takbir


Gema puji atasMu dikumandang
Tentu Kau dengar
Gunung pun tergetar mengulum senyum
Kaki memijak masih menyusuri jalan
Gelap memang, namun di sudut ini terasa benderang
Bukan, bukan lampu pijar peneman malam
Bukan gemerlap lampion dari seberang
Hanya sepasang bola
Bola yang basah karena rindu yang teramat
Rindu yang satu, hanya kepada-Mu
Ah ya, aku salah, ternyata bukan hanya sepasang, namun berjuta
Berjuta bola mata berkilau, dihiasi pelupuk yang basah
Sungguh indah, duhai air mata penuh tulus
Ketulusan rindu atas nama-Mu

Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laa ilaaha illallahu wallahu akbar
Allahu akbar walillahil hamd



Jumat, 25 Juli 2014

Hai Jingga



Hai jingga
Seperti biasa, kau sibuk dengan terangmu
Seperti biasa aku sibuk menanti di senjamu

Hai jingga
Kamu setia menyesap teh dalam cangkirmu
Pun aku masih setia menghirup aroma kopiku

Hai jingga
Masihkah engkau dengan segala jiwa robot tanpa emosimu?
Aku di sini masih sama dengan segala ketidaksabaranku

Hai jingga
Terlambatkah aku mengucap hai?

Atau engkau yang  terlalu cepat pergi?