Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

"Belum makan kalau belum ketemu nasi"

Belakangan ini di berita tv marak sekali blow up kasus KPK vs Kapolri serta masalah Ahok vs DPRD, saya sampai jenuh banget ngedengerinnya. Untuk tagline berita di situs online, berita-berita sering saya skip saja, akhirnya lanjut baca berita yang lain. Ada satu berita yang cukup bikin saya geregetan pengen bikin artikel di sini. Yak, tentang impor beras dan ketersediaan bulog untuk pangan nasional. Karena kebetulan saya paham sedikit mengenai teknologi industry pertanian.

Pada situs harian Viva online berikut ini disebutkan bahwa Presiden Jokowi kukuh tidak akan impor beras. Beliau memerintahkan melepas stok beras di bulog untuk disalurkan di pasar. Beliau juga menambah alat dan kebutuhan produksi pertanian di daerah agar petani lebih produktif dalam menghasilkan beras.

Saat pemilu sejujurnya saya tidak sreg dengan kedua kandidat presiden. Namun beberapa kinerja Pak Jokowi ini dalam memperbaiki Indonesia perlahan menurut saya berangsur-angsur lebih baik. Yak salah satu contohnya dalam bidang pertanian seperti yang saya sebutkan di atas. Saya setuju kok jika impor beras dihentikan dengan beberapa alasan yang akan saya paparkan.

“Orang Indonesia meskipun sudah makan roti belum makan namanya kalau belum makan nasi”. Sering mendengar ungkapan ini?. Budaya makan pokok adalah makan nasi sudah mengakar kuat sepertinya di Indonesia. Entah siapa yang awalnya memperkenalkan kebiasaan makan nasi di Indonesia hingga kini menjadi budaya turun temurun.

Konon para pedagang dari Cina yang membawa budaya makan nasi ini masuk ke Indonesia. Sejak tahun 2300 SM penghuni negeri ini telah mulai mengenal nasi sebagai produk olahan dari beras melalui para pedagang Cina tersebut. Dan entah apa yang menjadi alasan utama nenek moyang kita terdahulu sehingga akhirnya memilih nasi ini sebagai makanan pokok favorit. Seiring  bergulirnya waktu tanpa disadari kesukaan ini terwariskan kepada generasi demi generasi selanjutnya untuk kemudian akhirnya menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk negeri Indonesia saat ini. Menggeser keberadaan ragam makanan pokok lain yang telah ada sebelumnya. Padahal dulu makanan pokok orang Indonesia sangaaat beragam, tidak melulu nasi, misalnya Singkong, Ubi, Sagu, Pisang, dll. Sebagai contoh, sekarang masyarakat Irian Jaya yang dulunya menjadikan sagu sebagai makanan pokok pun mulai beralih mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Jagung yang diidentikan sebagai makanan pokok daerah Madura pun perlahan bergeser menjadi nasi. Namun (sekali lagi) entah mengapa pada akhirnya masyarakat Indonesia hampir seluruhnya kini sangat menggemari nasi sebagai makanan pokoknya. Akibatnya? Kebutuhan beras kian meningkat tiap tahunnya bahkan negeri ini nyaris keteteran menanggulangi masalah tersebut yang berakhir dengan impor beras.

Maka dari itu salah satu usaha untuk menanggulangi persoalan, untuk mengurangi bahkan mencegah terjadinya impor beras, adalah dilakukannya sosialisasi diversifikasi makanan pokok. Mengedukasi masyarakat bahwa sumber makanan pokok bukan melulu hanyalah nasi. Tentunya usaha ini harus didukung penuh oleh pemerintah sehingga masyarakat bisa mulai terbiasa menjadikan selain nasi sebagai sumber karbohidrat utamanya. Diharapkan tidak ada lagi terjadi fenomena yang dianggap lazim ketika piring makan siang kita berisi menu seperti ini : nasi putih, perkedel kentang dan tumis jagung. Yang ternyata seluruhnya terdiri dari karbohidrat. Makanan pokok semua!


Membutuhkan kebiasaan baru yang mesti dilatih untuk menggantikan kebiasaan lama yang sudah mengakar. Ini bukan perkara mudah dan merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah bukan hanya sekedar menggembar-nggemborkan kebijakan diversifikasi pangan. Butuh upaya keras untuk melatih masyarakat indonesia mengubah budaya makan nasi ke makanan yang lain. Seperti gerakan “Sehari Tanpa Nasi” yang dikampanyekan oleh Walikota Depok. Gerakan One Day no Rice merupakan program yang telah digulirkan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian beberapa tahun lalu. Namun, program ini seperti mendapat momentum ketika Pemkot Depokmulai mengkampanyekan program tersebut pada 22 April 2012. Gerakan One Day no Rice adalah gerakan untuk mencerdaskan bangsa karena karbohidrat tidak hanya bersumber dari nasi saja. Gerakan ini mengajarkan kita untuk berkreasi dalam menyajikan pangan pengganti beras.

Sumber Referensi:
1. http://kisuta.com/20130517-budaya-makan-nasi-bisa-membuat-indonesia-bangkrut
2. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/11/18/0750036/Gerakan.dari.Kantin.Balaikota.Depok
3. http://ketahananpangannunukan.blogspot.com/
4. http://risablogedia.blogspot.com/2012/06/tipikal-indonesia-belum-kenyang-kalau.html
5. http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/10/bisakah-sehari-tanpa-nasi-468767.html

Jumat, 20 Februari 2015

Mikrohidro

“Bekasi rasa puncak” itulah status yang teman saya unggah beberapa waktu lalu. Memang saya akui beberapa hari ini hujan deras nampaknya tidak bosan untuk hadir  setiap hari. Bahkan Jakarta sudah seperti lautan. Untung tahun ini Alhamdulillah rumah saya tidak kebagian jatah banjir J. Saat musim hujan begini, rasa-rasanya segelas bandrek hangat akan nikmat diseruput di malam hari. Segelas bandrek hangat yang saya nikmati mengingatkan saya pada CV Cihanjuang yang dulu pernah saya kunjungi saat mata kuliah konversi energi. CV Cihanjuang yang terletak di Cimahi Bandung ini terkenal akan Bandrek minuman khas Priangannya. Namun yang akan saya bahas di postingan kali ini bukanlah bandreknya, melainkan mengenai mikrohidro yang juga terkenal di Cihanjuang. Mungkin saja artikel ini bisa menginspirasi teman-teman untuk meneliti ataupun mencari tau lebih dalam mengenai mikrohidro sehingga bermanfaat.

Sebelumnya apa teman-teman tau atau pernah dengar apa itu mikrohidro? Saya juga baru tau mikrohidro ini saat kunjungan langsung ke lapangan. Saat di bangku sekolah pembangkit listrik yang saya ketahui hanyalah sebatas PLTU, PLTA, dan PLTS saja. Ternyata masih ada beberapa sumber tenaga listrik yang saya tidak ketahui, yak salah satunya si mikrohidro ini. Kalau dari namanya yang mengandung kata hidro mungkin teman-teman dapat menebak bahwa tenaga listrik ini pasti mengandung unsur air. Yup, benar. Lebih tepatnya Mikrohidro atau yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air.

Di jaman sekarang manusia sudah sangat ketergantungan dengan listrik. Buktinya saja saat terjadi giliran pemadaman listrik tidak sedikit aktivitas yang menjadi terganggu, bahkan beberapa perusahaan bisa mengalami kerugian. Mati lampu alias mati listrik, sudah biasa terjadi bukan? Itulah kondisi kelistrikan di Indonesia. Meningkatnya kebutuhan akan listrik dan masalah kekurangan pasokan listrik menjadi biang keladinya. Belum lagi masalah lain diantaranya  belum semua daerah dapat menikmati listrik. Saya pernah baca kalau tidak salah menurut kementrian ESDM pada tahun 2007 masih ada 105 juta jiwa di Indonesia yang belum menikmati pasokan listrik.

Di tengah kesulitan masyarakat Indonesia mengenai pasokan listrik, maka Eddy Permadi, Direktur CV Cihanjuang Inti Teknik (Cintek), menciptakan pembangkit listrik mikrohidro. Beliau melihat potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia. Rupanya Direktur CV Cintek ini terinspirasi untuk memanfaatkan air menjadi sumber tenaga listrik setelah beliau berkunjung ke sebuah museum energi di Zurich, Swiss. Di sana, Pegunungan Alpen besar sekali potensi airnya, mikro hidro menjadi salah satu sumber energi masyarakatnya. Indoneseia, sebagai negara yang memiliki potensi air yang melimpah, seharusnya bisa seperti Swiss, itulah yang ada di benak Pak Eddy yang juga menjabat sebangai anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).

Masyarakat Cihanjuang kini tak perlu lagi membeli listrik dari PT PLN, karena sudah tersedia listrik dari PLTMH milik Cintek. Proses instalasinya kurang lebih dijabarkan seperti berikut. Aliran air dengan kapasitas dan ketinggian tertentu di salurkan menuju rumah instalasi (rumah turbin). Selanjutnya instalasi air tersebut akan menabrak turbin, lalu mengubahnya menjadi energi mekanik berupa berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut lalu dihubungkan ke generator dengan mengunakan kopling. Generator akan dihasilkan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban).


Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dibawah ukuran 200 KW digolongkan sebagai Mikrohidro. Secara teknis Mikrohidro terdiri dari  tiga komponen utama yaitu air, turbin dan generator. Perusahaan yang didirikan pada 1999 ini, hingga tahun 2007 telah berhasil memasok turbin untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) ke lebih dari 200 lokasi di Tanah Air. Mulai dari Tanah Rencong hingga Bumi Cendrawasih. Turbin air buatan Pak Eddy ini tak hanya diminati di Tanah air, tetapi juga pasar luar negeri, termasuk negara maju seperti Swiss. Sebagian dari PLTMH itu bahkan dibangun sendiri oleh Cintek, mulai dari konstruksi sipil, perlengkapan elektromekanik, transmisi dan distribusi listriknya ke masyarakat sekitar, hingga instalasi ke rumah-rumah. Kini desain produk turbin listrik PLTMH produksi Cintek sudah dipatenkan di Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM dengan nama Hanjuang. Yang menarik, keberhasilannya di bisnis produksi turbin air mendorongnya untuk menekuni bisnis baru yaitu minuman khas Jawa Barat, bandrek dan semacamnya. Adapun merek yang diusung sama yaitu Hanjuang. Kini bisnis minuman bandreknya menunjukkan kinerja yang luar biasa. Untuk yang tertarik membaca artikel info tentang mikrohidro ini dapat mengunjungi link berikut. 1, 2,  3, 4.

Selasa, 10 Februari 2015

Pendidikan yang Mencerdaskan

Saya kurang setuju dengan stigma yang belakangan beredar di masyarakat kurang lebih seperti ini “untuk apa belajar pinter-pinter toh banyak orang bisa sukses meskipun gak pinter seperti Ibu menteri Susi dan Bob Sadino”. Umumnya orang yang melontarkan pernyataan seperti ini hanyalah sebagai excuse. Karena alasan permisif jadi punya alasan untuk ngeles, sehingga malas-malasan  pun diperbolehkan karena alasan di atas.

Bob Sadino dikenal sebagai orang yang selalu menyebut dirinya goblok. Honestly, I think He is not into it. Menurut saya dia justru sangat brilian dalam pola pikir, cerdas (kapan-kapan akan saya bahas di blog tentaang Bob Sadino juga yah ;D). Cerdas menurut saya pribadi berbeda dengan pintar. Mau penggambaran lebih jelas mengenai perbedaan cerdas dan pintar? Saya sarankan untuk menonton film India yang berjudul 3 Idiot dengan pemeran utama Amiir Khan sebagai Rancho. Dalam film ini digambarkan secara pengkarakteran bahwa si cerdas ada dalam karakter Rancho. Sedangkan si pintar digambarkan dalam karakter Chatur.

Dikisahkan Seorang Profesor Guru Besar di Universitas, yaitu Virus, memiliki murid kesayangan yang pintar dan rajin belajar, murid itu adalah Chatur. Ada seorang murid yang pola pikirnya cukup nyeleneh namun selalu memiliki prestasi tertinggi di kampus, dialah Rancho. Rancho bukanlah tipe orang yang kutu buku, ataupun “belajar textbook”. Hal ini tergambar dari sebuah scene saat seorang professor bertanya apa arti mesin. Rancho menjawab dengan sederhana, sementara Chatur menjawab dengan penjelasan panjang yang rupanya merupakan jawaban hapalan yang sama persis seperti di buku. Rancho dimarahi oleh dosen tersebut karena jawaban yang diutarakan tidak sama seperti buku. Saya hapal dan ingat sekali dengan scene ini. Itulah pendidikan yang banyak terjadi di sekolah-sekolah bukan? Kebanyakan pendidikan di sekolah-sekolah mengarahkan kita textbook, pintar secara hapalan, bukan logika dan pemikiran sederhana. Dan mungkin itu pula lah salah satu penyebab mengapa Indonesia memiliki banyak siswa-siswa yang berprestasi dalam bidang pelajaran, contohnya olimpiade fisika, matematika, di luar negeri, bahkan mengalahkan negara-negara lain. Namun sayang yang bisa menemukan inovasi baru, pembaruan yang belum ada, paten,  hanya segelintir saja seperti Pak Habibie.

Jangan salahkan anaknya maupun gurunya, saya rasa system pendidikannya yang harus mulai dibenahi, patokan kompetensi keberhasilan guru dalam mendidik siswanya sudah sepatutnya tidak berdasarkan patokan ujian nasional. Ujian nasional hanya berupa angka, bagaimana jika angka tersebut tidak mewakili ilmu-ilmu yang sudah didapat selama pengajaran. Tidak semua anak mahir dan pintar di semua mata pelajaran. Setiap anak diciptakan dengan keunikan dan keahlian masing-masing, passion yang berbeda-beda pula. Ada yang mahir bahasa, berhitung, seni, olahraga. Jika siswa lemah di mata pelajaran lantas apa anak tersebut dinilai bodoh? Tentu saja tidak kan? Mungkin cara belajar di sekolahnya yang tidak sesuai, bukan siswanya yang bodoh. Saya setuju sekali dengan pendapat Bang Pandji dalam blognya berikut ini.



Saya suka dengan tema yang pernah diangkat di acara Mata Najwa 24 Desember 2014, saat roadshow di Aceh dengan tema Pesan untuk Negeriku. Di sana dihadirkan bintang tamu yang konon katanya dulu saat masa sekolah malas sekolah namun sekarang menjadi sosok yang sukses, diantaranya Dahlan Iskan, menteri Susi, Faisal Basri, dan Penyanyi Tompi. Bu Susi bahkan mengatakan bahwa memiliki ilmu yang banyak itu bagus, salah satunya belajar di sekolah, “hanya saja saya saat itu merasa bahwa saya tidak suitable dengan sekolah” demikian yang diucapkan bu Susi, seperti hal yang pernah diucapkan pula oleh Eistein. Satu hal yang sama yang saya tangkap dari rahasia kesuksesan mereka, kendati mereka tidak menyukai ilmu yang diajarkan di sekolah, mereka tetap giat belajar dan berusaha keras. Mereka sangaaat suka membaca. Bukan hanya belajar apa yang diajarkan di sekolah, mereka banyak membaca buku, entah itu tentang budaya, perekonomian, social, dll. Ada peribahasa yang mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Sungguh peribahasa yang bagus, coba jika peribahasanya begini, “sekolahlah setinggi mungkin”, maka orientasinya yang dikejar bukan lagi ilmunya melainkan angka, nilai saja, entah bagaimana pun caranya. Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat yang tidak mesti diperoleh di bangku sekolah saja bukan?






Selasa, 03 Februari 2015

Musik Korea

Demam korea lagi merajalela dimana mana sepertinya. Televisi lokal pun sepertinya berlomba-lomba untuk menayangkan drama yang berasal dari negeri gingseng ini. Tidak sedikit pula budayawan yang mengomentari invasi budaya korea yang mulai mewabah di Indonesia. Korean wave, istilah masuknya budaya korea dimana mana.

Jujur, saya kurang suka dengan tayangan sinetron Indonesia saat ini, ceritanya kurang mendidik (ini pendapat saya pribadi lho :p). Kalau lagi mau nonton drama untuk mengisi waktu senggang akhirnya saya lebih memilih menonton drama luar, misalnya Jepang, India, maupun korea. Namun akhir-akhir ini saya jadi suka nonton beberapa drama korea, beberapa ceritanya cukup bagus dan mendidik. Kadang saya prihatin juga kenapa Indonesia kok gak bikin sinetron dengan tujuan untuk mengubah pola pikir masyarakatnya yah? bukan melulu meikirkan rating semata demi tujuan komersial seperti GGS misalnya.

Saat streaming di youtube biasanya saya lebih suka mendownload musik. Kegemaran saya akan musik ini mungkin karena yai (sebutan kakek) juga sangat menyukai musik. Hanya saja beliau berbakat di musik, sedangkan saya tidak. Beliau bahkan merupakan salah satu dosen seni musik di salah satu universitas negeri di Jakarta. 

Seperti halnya drama korea, awalnya saya memandang music korea tidak ada apa-apanya dibanding penyanyi dan musisi Amerika. Ternyata saya salah besar, music korea tidak melulu digandrungi karena tarian unyu-unyu dan penyanyi yang tampan dan cantik. Ada beberapa penyanyi yang cukup bagus pula ternyata, apalagi jika kita menonton ajang pencarian bakat musiknya, saya acungi jempol. Ada beberapa pula yang pandai sekali mengaransemen music sehingga asik didengar. Bahkan penyanyi Indonesia Gammaliel dan Audrey pun pernah mengcover lagu korea Heaven yang dinyanyikan oleh Ailee.

Hal yang saya kagumi dari Korea salah satunya adalah kegigihan. Untuk mempersiapkan debut mereka bahakan melakukan persiapan latihan yang cukup lama (bahkan bertahun-tahun). Mungkin kegigihan dalam berusaha inilah salah satu hal yang patut di contoh Indonesia jika ingin semaju Korea (cmiiw). Meskipun ada pula yang memang murni memiliki bakat seperti Choi Sung Bong. Saya ikut terharu membaca riwayat hidupnya, yang besar di jalanan.

Berikut saya sertakan link beberapa video yang saya sukai. Selamat menonton ;D 

Audisi Choi Bong Sun




Video Clip Yoseob dan Eunji


 Audisi Kpop Star

Akdong Musician  (Rolling in the deep cover mix)


Audisi Shin Jihun
(fall too deep with her voice :D)



Lee Hi in Kpop Star





Rabu, 03 Desember 2014

(sinopsis) Will it Snow for Christmas?

Sambil menunggu hasil uji lab keluar, akhirnya saya bisa leyeh-leyeh santai di rumah. Saat gonta-ganti channel tv, akhirnya ibu saya yang kebetulan hari ini sedang libur juga, minta nonton drama korea yang ditayangkan di tv. Sebenarnya ada stasiun tv yang menayangkan drama korea The Heirs. Drama The Heirs ini setau saya cukup digandrungi remaja-remaja, yang tentu saja terkenal dengan pemainnya yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Tapi entah mengapa saya tidak terlalu tertarik untuk menontonnya, jadi saya lebih memilih menonton drama korea lain yang ditayangkan di channel Rajawali tv, judulnya Will it Snow for Christmas . Awalnya hanya menonton untuk mengisi waktu, eh ternyata cerita dramanya lumayan seru lho, bahkan ibu saya sampai ikut menangis, hehe.



Setelah nonton drama ini, saking penasarannya akhirnya saya googling review drama ini. How lucky!! Ternyata episode yang saya tonton hari ini adalah episode pertama. Sebenarnya drama ini cukup jadul. Drama ini tayang di korea pada tahun 2009.

Saya akan menceritakan sedikit kisah pada Episode 1 ini. Cerita diawali dengan keluarga Cha Kang Jin pindah ke sebuah kota. Cha Kang Jin hidup bertiga bersama adik dan ibunya. Ibu Kang Jin membuka sebuah kedai teh (mungkin bisa dibilang semacam bar). Sebenarnya Kang Jin tidak terlalu setuju dengan pekerjaan ibunya. Bos ibunya adalah seorang tuan tanah bajingan yang genit.


Di sekolah  Cha Kang Jin  adalah siswa kelas 3 SMA yang cukup populer karena dikenal tampan, pendiam, dan pintar. Ada seorang siswi kelas 1, Han Ji Wan, memiliki seorang mantan pacar. Pacar dari mantan pacar Han Ji Wan (duh ribet yah?) memutuskan mantar pacar Han Ji Wan dan berkencan dengan Cha Kang Ji. Hal ini membuat patah hati siswi-siswi penggemar Cha Kang Jin. Ji Wan ikut sebal terhadap sikap Cha Kang Jin yang membuat patah hati para siswi. Hingga ji Wan ingin membuat sebuah rencana yaitu dia ingin membuat Kan Jin juga merasakan seperti apa rasanya patah hati. Ji Wan berencana membuat Kang Jin menyukainya, setelah Kang Jin menyukainya dia akan membuat Kang Jin patah hati. Setiap hari Ji wan melakukan banyak hal yang ‘aneh’ agar Kang Jin suka padanya, namun tetap saja ditolak Kang Jin, How poor Ji Wan L.

Kang Jin selalu menyimpan dengan baik liontin pemberian ayahnya agar kelak suatu hari ia dapat bertemu ayahnya, meskipun sebenarnya ibunya sangat membenci ayahnya. Oh ya sebenarnya ibu Kang Jin menyimpan rahasia tentang cinta pertamanya.

Kembali lagi ke kisah Kang Jin dan Jin Wan. Jin Wan tidak meyerah untuk membuat Kang Jin jatuh cinta padanya. Ia bahkan mengikuti Kang Jin ke rumah (kedai teh) Kang Jin. Saat berada di depan kedai Kang Jin tidak sengaja Jin Wan mendengar ada sedikit keributan. Rupanya Kang Jin memukul bos yang genit pada ibunya. Ibunya memarahi Kang jin. Kang Jin berjalan keluar untuk mencari angin dan bertemu dengan Jin Wan. Sepanjang perjalanan Jin Wan mengoceh panjang lebar memberikan beberapa ide untuk memberi pelajaran pada bos bajingan itu. Bukannya setuju dengan saran yang diberikan Jin Wan, Kang Jin justru mencium Jin Wan, untuk memastikan satu hal. “Kau bilang di suratmu padaku bahwa kita mungkin di rainkarnasi masa lalu adalah pasangan, tapi aku sama sekali tidak merasakan apa-apa saat menciummu, sepertinya dugaanmu salah” ucap Kang Jin datar sambil berlalu.



Setelah semua kejadian yang dialami Kang Jin, Jin Wan justru merasa iba. Besoknya Jin Wan membalas bos genit dengan cara mencoret-coret mobil si bos. Si bos langsung marah dan mengira itu semua ulah Kang Jin. Jin Wan langsung melerai dan mengaku, hingga si bos memukuli Jin Wan. Kang Jin bertanya kenapa Jin Wan melakukan semua itu. “Semua orang tau dia orang bajingan , tapi kau tidak dapat berbuat apa-apa, jadi aku membalas bajingan  itu” ucap Jin Wan denga polos. Wuiih Jin Wan keren yah? pemberani J. Karena melihat si bos memukul Jin Wan akhirnya Kang Jin balas memukuli si bos di jembatan hingga secara tidak sengaja liontinn kesayangan kenangan pemberian ayah Kang jin jatuh ke sungai Kang Jin semakin marah dan memukuli si bos. Kang Jin diklaporkan ke kantor polisi. Bukannya membela, ibu Kang Jin justru memarahi Kang Jin yang sedang menangisi liontin pemberian ayahnya yang hilang. Diam-diam ibu Kang Jin menangis di rumah karena tidak memiliki biaya jaminan agar Kang Jin buisa keluar dari penjara. Namun cinta pertama ibunya bersedia membayar uang jaminan untuk Kang Jin dibebaskan (Cinta pertama ibunya adalah misteri dari drama ini).

Setelah bebas dari penjara  Kang Jin kembali ke jembatan dan melompat ke sungai untuk mencari liontin. Melihat Kang Jin melompat Jin Wan mengira ia akan bunuh diri. Namun dia lega ketika melihat Kang Jin berenang ke tepi. Karena iba, Jin Wan berenang di sungai mencari liontin Kang Jin. Tiba-tiba dramanya selesai. Ugh, padahal saya penasaran:’(. Kalau liat preview untuk episode selanjutnya Kang Jin jadi suka banget sama Jin Wan, sayangnya Jin Wan terlanjur janji untuk membuat Kang Jin patah hati saat Kang Jin jatuh hati padanya.


Overall, saya suka drama ini. Kisah cinta masa remajanya digambarkan cukup manis. Tidak heran drama ini cukup menguras air mata karena ditayangkan di SBS (ada yang bilang singkatan Spesialis Bikin Sedih, hehehe). Akting pemainnya juga bagus-bagus. Dan alur dramanya cukup menarik dan tidak membosankan. Lumayan untuk tontonan di waktu senggang. Kalau nonton dramanya langsung jauuuuh lebih seru ketimbang baca synopsis yang yang saya tuliskan di atas. Aaaak can’t wait for the next episode!!

Senin, 01 Desember 2014

Manfaat Kopi

Saya akui pemahaman saya mengenai kopi sangat sedikit, karena saya memang bukanlah seorang pecinta kopi, bisa dibilang saya ini hanyalah pecandu kopi. Kendati memiliki penyakit maag, saya tetap keukeuh mengonsumsi kopi di pagi hari dengan keadaan perut kosong. Sounds like bapak-bapak, eh? Insomnia bawaan sejak kecil pun tidak menyurutkan kebiasaan saya untuk mengkonsumsi kopi, meskipun berkali-kali diceramahi ibu saya, hehe.


Entahlah, tanpa secangkir kopi rasanya saya tidak dapat memulai hari. Saya sendiri juga tidak tau kenapa jika sehari tanpa kopi rasa kantuk selalu menghinggapi sepanjang aktivitas, hahaha, suggesti mungkin? Saking penasarannya dengan efek short term setelah minum kopi saya bahkan searching di internet. Ternyata rasa lemas dan kantuk yang ‘terobati’ dengan minum secangkir kopi ini disebabkan oleh kandungan kafein dalam kopi. Kafein ternyata berfungsi sebagai perangsang susunan saraf otak, system pernapasan, serta system pembuluh darah dan jantung sehingga setelah mengkonsumsi kopi  kita akan merasa segar, daya berpikir lebih cepat, dan tidak mudah lelah.

Selain sebagai pelengkap untuk memulai aktivitas pagi, saya juga biasa minum kopi sebelum jogging supaya lebih semangat dan tidak mudah capek saat berlari. Saya pernah baca di website DuniaFitness, Denny santoso  bahwa selain meningkatkan daya tahan tubuh, kopi berguna pula dalam proses pembakaran lemak yang dapat membantu meningkatkan massa otot. The Australian Institute of Sport Team menemukan bahwa kafein pada kopi dapat memicu otot untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi . Kafein juga telah banyak digunakan oleh banyak atlet terutama binaraga sebagai cara mendapatkan energi tambahan pada setiap ajang perlombaan.

Dengan mengonsumsi kopi, tubuh termobilisasi untuk membakar lebih banyak timbunan lemak selama berolahraga. Kafein membantu memecah lemak menjadi sumber energi siap pakai berupa asam lemak. Hal ini mendorong tubuh lebih banyak memanfaatkan lemak, sehingga pembakaran karbihidrat menjadi lebih terbatas. Yang perlu diperhatikan hanya jumlah gula yang ikut masuk bersama kopi ;D. Bahkan International Coffee Organization menyatakan bahwa mengonsumsi 150 gram kafein (ukuran yang biasanya ditemukan pada secangkir kopi) dapat mengurangi rasa kelelahan serta mampu meningkatkan kinerja saat berolahraga.

Rupanya ada banyak sekali manfaat minum kopi yah ternyata. Kendati kopi ternyata memiliki banyak efek baik, namun tetap saja segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan akan berdampak tidak baik untuk kesehatan tubuh. Jadi, cukup konsumsi kopi dalam batas wajar saja yah, sekitar1-3 cangkir per hari.

Ah yaa, di bawah ini saya sertakan link video lagu youtube untuk didengarkan sambil menyeruput secangkir kopi di pagi hari, check this one out ;D.








Kamis, 27 November 2014

Kentang, Primadona Dieng yang Menjelma Menjadi Buah Simalakama


Turut prihatin deh rasanya saat menonton tayangan berita di tv tentang nasib petani kentang di daerah Dieng. Di tv diberitakan bahwa petani kentang di Dieng mengeluhkan krisis air yang menyebabkan lahan kering. Sebenarnya issu mengenai kekeringan dan berbagai masalah kerusakan alam akibat penanaman kentang sudah menjadi masalah klasik di daerah Dieng.
Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi lahan Dieng menjadi tanaman kentang mengakibatkan krisis air. Sumber air sulit didapatkan, sementara sumur-sumur yang ada tercemar pestisida. Krisis air ini sebenarnya seharusnya membangkitkan kesadaran sebagian besar petani di Desa Karangtengah, Dieng  untuk merehabilitasi lingkungan.
Kentang yang kini identik dengan Dieng sebenarnya adalah tanaman "impor" dari luar daerah. Sebelum kedatangan kentang, penduduk Dieng adalah penanam jagung dan tembakau. Asal mulanya ketika para petani kentang di Jawa Barat kehilangan tanaman mereka saat Gunung Galunggung meletus sekitar tahun 1980-an. Lalu mereka mencari lahan yang cocok untuk kembali bertanam kentang dan sampailah mereka di Dieng dan menanam kentang di sana. Itulah asal usul kedatangan kentang di Dieng.
Durasi penanaman yang jauh lebih singkat dan nilai ekonomis yang dihasilkan kentang membuat para petani Dieng tergiur, dan perlahan tapi pasti meninggalkan tanaman tradisional mereka, tembakau dan jagung.  Dengan pendapatan yang menggiurkan itu, tak heran jika para petani Dieng kemudian banting setir menjadi penggarap kentang.. Pada awalnya pun kentang memang memberikan kemakmuran bagi penanamnya. Dari kentang para petani bisa membeli sepeda motor, mobil, bahkan naik haji.  
Namun, yang tidak disadari para petani adalah kentang ternyata tanaman "jahat" yang bisa merusak kondisi lahan di dataran tinggi Dieng. Sifat kentang yang tidak bisa hidup di bawah tanaman lain membuat petani rela menebang pepohonan lain demi membuka lahan kentang. Dengan dibabatnya tanaman keras di pegunungan Dieng, maka tak ada lagi pohon berakar kuat yang bisa menahan air hujan. Oleh karenanya, saat hujan datang, sedikit demi sedikit lapisan subur tanah terbawa hujan yang berujung pada kritisnya kondisi lahan.
Dampak jangka panjangnya adalah kualitas lahan pertanian Dieng kian hari kian menurun. Akibatnya, pendapatan petani kentang juga kian hari kian menurun. Kentang yang dahulu memberikan keuntungan berlipat ganda tak jarang kini justru memberikan kerugian bagi petani.

Lantas apa yang membuat prihatin? Masalah klasik yang sudah bertahun-tahun terjadi di dataran tinggi Dieng ini nampaknya tidak menggungah pemerintah untuk turun tangan.  Krisis yang terjadi ini sebenarnya telah membangkitkan kesadaran sebagian besar petani di Karangtengah untuk merehabilitasi lingkungan. Para petani sudah mencoba menanam pohon tegakan keras. Tapi, mereka tidak memiliki dana untuk mendapatkan bibit. Sampai sekarang tak ada bantuan sama sekali dari pemerintah. Baru-baru ini petani di Karangtengah telah menanam 60.000 pohon ekalitus.  Ekalitus diharapkan dapat menjadi tanaman alternatif pengganti kentang karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain itu, ekalitus juga dapat menyimpan air sehingga dapat mengatasi masalah kekurangan air, terutama pada musim kemarau. Sekitar 60.000 bibit ekalitus tersebut didapat petani setempat dari sejumlah instansi swasta. Kelompok tani pernah mengajukan bantuan kepada pemkab setempat, namun sampai saat ini belum ada realisasi.

Sabtu, 08 November 2014

Rice Pudding Recipe

Kalau lagi di rumah libur aktivitas kurang afdol rasanya kalo ga nyoba resep-resep masakan baru (re: gagal diet). Macam emak-emak saja yah, hahaha. Harap maklum, karena kedua orang tua saya bekerja, jadi kalau saya dan kedua adik saya sedang di rumah maka harus membagi-bagi tugas rumahan, ada yang bersih-bersih, ada yang ngurusin cucian, ada yang ngurus soal makan.
Saya rasa masalah klasik yang hampir dijumpai hampir setiap rumah yaitu sisa nasi yang kemarin malam tidak habis termakan sehingga bingung paginya sisa nasi mau diapakan, pilihan akhir paling-paling dibuat nasi goreng. Merasa bosan dengan menu nasi goreng itu itu lagi akhirnya saya coba googling resep makanan berbahan dasar nasi, hingga akhirnya ketemu dengan resep rice pudding khas Turki alias pudding nasi yang akan saya bahas di postingan ini.

Rice Pudding


Bahan:
§  1 cup nasi putih matang
§  Nestle cerelac kacang hijau sachet kecil (modifikasi, resep asli tidak pakai)
§  2 cup fresh milk (saya subtitusi dengan susu bubuk yang dicairkan)
§  Pipilan jagung secukupnya
§  1/4 cup gula
§  1/4 sdt garam
§  1 kuning telur
§  1 sdt vanilla extract
§  1 sdt mentega
§  Bubuk kayu manis untuk garnish (bisa diganti sesuai selera)

Cara membuat :
§  Rebus nasi, susu,pipilan jagung, garam, gula, aduk sesekali sampai mendidih.
§  Kecilkan api, aduk terus sampai susu terserap seluruhnya dan adonan mengental.
§  Matikan api, masukkan kuning telur, aduk cepat. Masukkan butter, aduk lagi. Terakhir masukkan vanilla extract, aduk rata.
§  Tabur bubuk kayu manis sesuai selera

PS:
Sebenarnya di resep asli setelah pudding jadi langsung dimasukkan loyang lalu dipanggang dalam oven, setelah dingin baru di masukkan ke kulkas, dan siap disajikan. Namun pudding yang saya buat sengaja  tidak dimasukkan ke oven terlebih dahulu, karena saya kurang menyukai tekstur pudding yang crunchy.


Awalnya saya agak pesimis sih dengan menu resep yang satu ini. Tapi kalau dilihat dari gambarnya yang cukup menggiurkan, jadi akhirnya kembali semangat untuk mencoba resep pudding ini. Dan setelah dicoba ternyata rasanya enak. Selain bergizi, pudding nasi ini bisa jadi kudapan sehat untuk mengisi energi sebelum beraktivitas, maupun camilan kumpul keluarga. Selamat gagal diet mencoba! 

Jumat, 19 September 2014

“Indonesia Punya Kopi, Starbucks Punya Nama”


Judul yang saya tulis di artikel kali ini saya peroleh dari artikel berikut ini. Sebenarnya saya sudah pernah juga diceritakan kisah ini sewaktu kuliah Manajemen Operasional. Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam yang begitu melimpah, salah satunya tanaman penghasil kopi. Bukan hanya ketersediaan bahan baku kopi saja yang berlimpah namun juga kualitas kopi yang unik, khas, dan bermutu tinggi dibandingkan dengan kopi dari negara lain. Lagi-lagi permasalahannya di keterbatasan Fasilitas serta Sumber Daya Manusia yang kompeten untuk mengolah kopi yang sampai saat ini masih terbatas. Pemerintah pun rasanya tidak ikut campur tangan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari komoditas kopi ini.
Taukah kalian bahwa kopi sumatera dari Indonesia sangat dihargai tinggi di dunia, seperti Amerika? (terdapat dalam artikel berikut). Indonesia merupakan salah satu pemasok bahan baku kopi Starbucks. Howard Schultz (Pemilik Starbucks) bahkan selalu mengawali paginya dengan meminum kopi arabika Sumatera (kisah ini tercantum dalam bukunya yang berjudul Put Your Heart Into It : How Starbucks Built a Company One Cup at a Time).
Indonesia memiliki bahan baku kopi yang sangat baik. Pun juga sudah banyak penelitian yang dilakukan para ahli (contohnya Puslitkoka, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) maupun mahasiswa Indonesia untuk meningkatkan kualitas cita rasa kopi. Dengan berbekal modal seperti itu apa yang masih kurang untuk menciptakan produk sekelas Starbucks? Sampai saat ini Indonesia terkenal hanya mengekspor biji kopi kering, dimana biji kopi kering adalah ‘barang setengah jadi’. Coba bayangkan jika ada badan maupun pemerintah yang mau berinvestasi besar-besaran, dengan membangun sebuah branding café ternama khusus produk olahan kopi? Masa kalah sama produk Hokben ataupun Jco yang juga sama-sama produk lokal? Ah lagi-lagi saya berandai-andai :D. Dengan Manajemen pemasaran brand yang baik, maka saya sangat yakin Indonesia juga bisa punya kafe kopi sekelas Starbucks, tapi yah itu tadi harus banyak campur tangan orang-orang yang peduli terhadap kebelangsungan kopi Indonesia.


Sabtu, 13 September 2014

Singkong, Sumber Bioenergi yang Terabaikan


Singkong identik dengan makanan kampungan.  Bahkan makanan rakyat ini dibuat sebagai kalimat sindiran dengan istilah  "Anak Singkong" yang umumnya ditujukan untuk orang kampung. Ah, andai saja masyarakat tau betapa bermanfaatnya bahan hasil pertanian ini. Selain kaya akan zat gizi, singkong dapat diolah menjadi beberapa produk, diantaranya produk makanan olahan, tepung, bahkan dapat dijadikan sebagai bahan bakar kendaraan.
Dalam rangka peralihan masa kepresidenan SBY, dibumbui isu kelangkaan bahan bakar bersubsidi. Di sisi lain ada penemuan yang cukup membanggakan di bidang energi yaitu ditemukannya bioethanol atau yang disebut Biopremium ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman, salah satunya berasal dari umbi singkong.


Bioethanol adalah ethanol yang bahan utamanya dari tumbuhan dan umumnya menggunakan proses fermentasi. Ethanol berupa cairan bening tak berwarna, terurai secara biologis (biodegradable), toksisitas rendah dan tidak menimbulkan polusi udara yg besar bila bocor. Ethanol yg terbakar menghasilkan karbondioksida (CO2) dan air. Ethanol adalah bahan bakar beroktan tinggi dan dapat menggantikan timbal sebagai peningkat nilai oktan dalam bensin. Dengan mencampur ethanol dengan bensin, akan mengoksigenasi campuran bahan bakar sehingga dapat terbakar lebih sempurna dan mengurangi emisi gas buang (seperti karbonmonoksida/CO).
Etanol bisa digunakan dalam bentuk murni atau sebagai campuran untuk bahan bakar bensin maupun hidrogen. Interaksi etanol dengan hidrogen bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi sel bahan bakar ataupun dalam mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) konvensional. 
Kelebihan dari etanol berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa mencapai 96%, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99%. Bisa dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada sekarang, yang hanya sekitar 70%. Dampak positif penggunaan bioethanol berbahan singkong sebagai bahan bakar terhadap perekonomian nasional dan lingkungan adalah Subsidi BBM akan berkurang secara signifikan sehingga bisa dialokasikan ke sektor lain, dan akan mengurangi polusi udara mengingat bioethanol yang ramah lingkungan.
Namun, sampai saat ini, bioetanol belum bisa menggantikan bensin secara penuh. Pertama, perlu biaya yang sangat besar untuk memproduksi bioetanol dalam jumlah yang sangat banyak. Kedua, belum tersedianya pabrik besar yang khusus memproduksi bioetanol. Selama ini bioetanol masih dibuat di rumah-rumah. Itulah kenapa, selama ini peran bioetanol masih sebagai campuran bensin. Tujuannya untuk lebih menghemat penggunaan bensin.
Saya pernah baca di harian online Kompas bahwa sebanyak 4.000 kubik cairan energi alternatif jenis bioetanol Februari 2014 diekspor ke Filipina. Ekspor tersebut disertai keprihatinan, karena energi alternatif tersebut justru tidak laku di negeri sendiri. Bioetanol itu merupakan produk anak usaha PTPN X, yakni PT Energi Agro Nusantara (Enero). Dirut PTPN X, Subiyono, mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi.
Saat ini, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama ekspor dengan sejumlah pihak lain di luar negeri, di antaranya dari Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda.Sangat disayangkan, tidak ada satu pun dari dalam negeri yang melirik produk ini, akhirnya terpaksa diekspor. 
Di Filipina, bioetanol memiliki prospek yang bagus, karena negara itu sedang gencar mencanangkan kewajiban pencampuran 10% bioetanol dalam bahan bakar kendaraan. Untuk keperluan itu, Filipina mengimpor bioetanol. 
Peluang memasok pasar Filipina makin besar, karena Thailand akan mengurangi ekspor bioetanolnya dan akan digunakan sendiri seiring dengan implementasi mandatory blending dari E10 menjadi E20 (kewajiban pencampuran 20 persen bioetanol).
Ah, kita sungguh beruntung hidup di negeri sekaya Indonesia. Kita kaya minyak bumi, sekaligus kaya tanaman penghasil minyak (bensin). Jika bisa memanfaatkannya, kita mungkin bisa menjadi Negara paling kaya di dunia!

Rabu, 10 September 2014

Iman vs Ilmu

Antara kebijakan peraturan dan hati nurani tidak jarang selalu berbenturan. Bukan hanya sekali dua kali namun sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pernah suatu kali, saat adik saya duduk di kelas 1 smp (kebetulan smp swasta) ada suatu kejadian teman kelasnya, K,  menunggak biaya sekolah berbulan-bulan, sehingga mendapat peringatan dari pihak sekolah untuk dikeluarkan. Melihat hal tersebut, teman-teman sekelas K memutuskan kompak untuk jualan bersama-sama, dengan tujuan dana yang terkumpul akan disumbangkan untuk biaya sekolah K. Sungguh mulia ya hati anak-anak kecil ini? :)
Namun, sayangnya kegiatan jualan ini diketahui pihak yayasan sekolah. Tentu saja pihak yayasan tidak setuju dengan apa yang dilakukan anak-anak kelas 1 ini. Akhirnya anak-anak kelas 1 dilarang berjualan lagi, dan K dikeluarkan dari sekolah. See? Kebijakan tetaplah kebijakan, entah mengapa dalam realita kehidupan 'manusia dewasa', lebih condong pada logika. Mungkin hanya anak-anak lah yang masih melakukan tindakan berdasar atas perasaan, nurani.
Dulu saya punya seorang senior, Akang I, dia pernah cerita pada saya, bahwa impiannya adalah membangun sekolah gratis. Memang impiannya sungguh mulia, tapi semakin lama semakin saya memahami, di dalam dunia, sekedar niat baik tidak cukup, semua hal harus didasari ilmu.
Tentu kita sudah sering mendengar ungkapan lebih baik kita memberi sebuah alat pancing, ketimbang memberi ikan. Dengan memberi ikan orang tersebut akan terus menerus membutuhkan bantuan orang lain seumur hidupnya, sedangkan dengan memberi pancing orang tersebut bukan hanya dapat mencukupi untuk dirinya sendiri, bahkan dia dapat memberi pula untuk orang lain yang membutuhkan, kurang lebih begitulah perumpamaannya.
Kalau dimisalkan dengan bidang pendidikan, saya suka dengan sistem manajemen sekolah yang diberlakukan oleh ustadz yusuf mansyur (saya sangat mengagumi beliau, hehe) yaitu sistem subsidi silang. Sang ustadz memiliki cabang pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri, Daarul Quran namanya. Saya pernah baca, biaya masuk sekolah ini bisa mencapai 20 juta. Jumlah yang fantastis yah untuk anak sekolah SD? Tapi tunggu dulu, beliau memberlakukan harga ini bagi siswa yang 'mampu', bahkan boleh bayar lebih dari biaya tadi. Uang 'lebih'nya dikemanakan? Tentu untuk membiayai yang ingin masuk pesantren namun tidak mampu. Saya suka dengan beliau bukan hanya seperti ustadz kebanyakan yang hanya bisa ceramah. Beliau sungguh cerdas. Tujuan utamanya yaitu ingin membeli kembali Indonesia dari tangan-tangan asing. Beliau bukan sekedar bicara, namun mewujudkan dengan tindakan nyata. Sekarang pembangunannya bukan hanya sekedar meliputi sektor pendidikan namun juga hotel, bisnis, industri kosmetika, dll agar tidak melulu dikuasai pihak asing.
Saya yakin semua agama menghendaki kebaikan untuk seluruh umat manusia, salah satunya yah dengan menuntut ilmu tadi, namun jangan terlalu fokus pada ilmu pula hingga mulai meragukan keberadaan Tuhan, semuanya harus selaras, balance.




Selasa, 09 September 2014

Bolu Lapis Talas

Saya selalu tertarik dengan menu cemilan atau kuliner yang terbuat dari bahan hasil pertanian khas Indonesia, itung-itung mengurangi konsumsi bahan hasil pertanian impor. Saat mampir ke toko roti langganan dekat rumah, hari itu ada promo cake varian baru. Langsung saja saya beli satu karena kebetulan sedang diskon, hehe :p. Sebenarnya ada banyak varian rasanya, strawberry, durian, dll. Awalnya saya mengincar yang rasa green tea, namun karena stocknya habis akhirnya saya membeli varian rasa tiramisu. Saya sempat mengira cake ini adalah brownies, karena kemasannya mirip sekali dengan kemasan brownies langganan saya yang berada di seberang kampus IPDN Jatinangor. Sebelum dibuka saya sempat mengamati kemasannya terlebih dulu. Sudah ada sertifikasi halalnya ternyata. Sewaktu pelajaran kuliah, setau saya membuat sertifikasi halal itu agak sulit minimal dibutuhkan jangka waktu satu tahun, agak salut juga saya dengan brand roti satu ini.


Lalu kemudian hal yang membuat saya tertarik membeli cake ini yaitu komposisinya, yaitu terdiri dari tepung talas, tepung nangka, dan tepung labu. Wah, saya bersyukur sekali semakin lama masyarakat menjadi modern semakin meningkat pula edukasi pemanfaatan bahan-bahan lokal yang mengandung zat gizi yang cukup tinggi, tidak kalah dengan produk import. Saya merasa senang karena hal-hal seperti ini berkaitan dengan yang saya pelajari ilmunya sewaktu kuliah.


Memang sih, di komposisinya masih mencantumkan bahan baku terigu pula. Tapi saya yakin kok komposisinya jauuh lebih sedikit ketimbang pembuatan cake pada umumnya. Sekedar informasi untuk pembaca. Bahwa sampai saat ini jumlah konsumsi terigu di Indonesia masih sangat tinggi. Sedangkan bahan baku terigu adalah gandum, yang tidak dapat tumbuh baik di iklim Indonesia, sehingga masih harus diimpor dari luar negeri. Padahal karbohidrat kan tidak melulu dari gandum, banyak bahan lain sebagai pengganti karbohidrat diantaranya umbi seperti talas, ubi, dan ketela. Selain itu umbi-umbian juga mengandung zat gizi yang lebih tinggi.


Sebagai perumpamaan dalam pembuatan satu buah cake pada umumnya digunakan 100 gram terigu, sedanghkan pada cake talas, penggunaan terigu dapat diminimalisir sampai 50%. Cukup mengurangi konsumsi terigu bukan? Mungkin di antara teman-teman bertanya-tanya mengapa penggunaan tepung talasnya tidak 100% saja? Kelemahan penggunaan tepung dari umbi yaitu tidak memiliki daya emulsi sebaik tepung dari serealia seperti gandum (tepung terigu). Alih-alih bukannya menjadi roti atau cake nanti malah menjadi kue talam, hehe :D. Semoga kelak ada adik-adik atau teman-teman ada yang tertarik untuk meneliti tepung subtitusi pengganti terigu yah ;).  Udah ah kebanyakan penjelasannya, saya udah keburu kehabisan cakenya sama orang serumah nih :’)


Sedikit review testimonial untuk urusan rasa, rasanya sangat enak menurut saya. manisnya pas. Tekstur cakenya cukup moist, tidak 'kempes' seperti halnya chiffon cake. Saya kira rasanya akan seperti kue lapis surabaya ternyata tidak, karena teksturnya lebih mirip ke butter cake. Saat melihat topping bagian atasnya mungkin sebagian orang akan mengira ada parutan keju di atasnya. Ternyata topping diatasnya adalah  cappucino cream yang terlebih dulu dibekukan, kemudian diparut di atas cake sehingga crunchy namun meleleh saat di kunyah, nyumm! 

Sabtu, 06 September 2014

Potret Petani Indonesia

          


           “Mau jadi petani yah?” itulah jawaban yang selalu orang-orang lontarkan setiap menanyakan jurusan kuliah saya. Saya sebenarnya berkuliah di Fakultas Teknologi Industri Pertanian, bukan di Fakultas Pertanian, hal yang sejujurnya jelas sangat berbeda. Mata kuliah Manajemen Operasi, Desain Produk, Rancangan Operasional, Manajemen Proyek, Menggambar Teknik, Ekonomi Teknik, Ergonomi, Konversi Energi, adakah yang berkaitan dengan pertanian?
          Apapun yang dikomentarkan, selama itu baik, saya aminkan J. Yang saya tidak sukai dari pendapat orang lain yaitu seakan-akan petani adalah pekerjaan buruh rendahan. Padahal jujur saya menganggap petani adalah salah satu pekerjaan mulia, apalagi bila dibandingkan dengan koruptor. Toh mereka menafkahi keluarga dengan tangannya dengan rejeki yang halal kan? :’). Keadaan yang sungguh berbeda dengan negara luar yang sangat peduli terhadap sektor pertanian seperti Swiss, Turki, Jepang, dll.
 Hanya sekedar segelintir orang yang betul-betul peduli terhadap kesejahteraan petani, sedangakan peranan Negara? Entahlah. Upaya program pemerintah seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan saya akui memang baik, hanya saja saya rasa harus pula diimbangi dengan ‘meningkatkan edukasi’ petani pula. Upaya  pemerintah seperti memberi harga pupuk yang murah justru malah menguntungkan petani untuk jangka waktu pendek saja, jangka panjangnya? Tanah lama-lama semakin rusak sehingga tidak lagi produktif, belum lagi residu pada hasil pertanian yang tidak baik bagi tubuh. Memang sih ada upaya-upaya kecil contohnya dari teman-teman kalangan mahasiswa seperti yang pernah saya dan teman-teman lakukan pada kegiatan bakti desa, yaitu penyuluhan kepada petani mengenai pembuatan pupuk organik, yang aman bagi lingkungan, hanya saja coba bayangkan rasio pemberi penyuluhan bila dibandingkan dengan jumlah petani di Indonesia, masih sangat timpang,.
Lihat saja realita di pasaran, beras dijual dengan harga tinggi, sedangkan gabah dari petani dihargai sangat rendah. Sadarilah bahwa beras yang kita santap dibumbui dengan ketidak adilan dan kerasnya hidup petani. Dengan langkah menambah edukasi petani diharapkan tidak banyak lagi kasus-kasus “tikus mati di lumbung padi” seperti Kasus yang terjadi di Kota Batu Malang pada Januari 2014. Sejumlah petani wortel Kota Batu, tidak memanen wortelnya, dengan jumlah yang tidak sedikit yaitu 200 Hektar. Hal ini disebabkan lantaran harga wortel yang anjlok yaitu mencapai Rp 700,- /kg. dengan harga jual yang sangat rendah tentu tidak akan menutup biaya produksi yang sudah dikeluarkan. Seandainya ada ‘orang’ atau ’badan’ yang tidak pelit ilmu dan mau turun tangan mau membantu petani-petani tersebut, misalnya mengolah wortel-wortel tersebut menjadi bentu produk olahan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi seperti diolah menjadi jus kemasan, saus, bubuk wortel, maupun campuran bahan makanan seperti cake.
Untuk kasus-kasus seperti ini peranan pemerintah saya rasa akan sangat membantu, dengan memfasilitasi sarana produksi pengolahan hasil-hasil pertanian. Coba bayangkan harga wortel yang hanya Rp 700,-/ kg apabila diolah menjadi bubuk wortel (carrot powder) harganya mencapai Rp 700.000,-/kg. Lagi-lagi, sayangnya Pasaran luar negeri masih didominasi oleh Negara-negara melek teknologi seperti Cina, Amerika, Austria, dll. Jika keadaan terus menerus seperti ini rasa-rasanya informasi-informasi yang sangat bagus yang diperoleh dari hasil penelitian skripsi rasanya semuanya menguap begitu saja, miris. :’(.