Selasa, 03 Februari 2015

One Last Cry Cover


Musik Korea

Demam korea lagi merajalela dimana mana sepertinya. Televisi lokal pun sepertinya berlomba-lomba untuk menayangkan drama yang berasal dari negeri gingseng ini. Tidak sedikit pula budayawan yang mengomentari invasi budaya korea yang mulai mewabah di Indonesia. Korean wave, istilah masuknya budaya korea dimana mana.

Jujur, saya kurang suka dengan tayangan sinetron Indonesia saat ini, ceritanya kurang mendidik (ini pendapat saya pribadi lho :p). Kalau lagi mau nonton drama untuk mengisi waktu senggang akhirnya saya lebih memilih menonton drama luar, misalnya Jepang, India, maupun korea. Namun akhir-akhir ini saya jadi suka nonton beberapa drama korea, beberapa ceritanya cukup bagus dan mendidik. Kadang saya prihatin juga kenapa Indonesia kok gak bikin sinetron dengan tujuan untuk mengubah pola pikir masyarakatnya yah? bukan melulu meikirkan rating semata demi tujuan komersial seperti GGS misalnya.

Saat streaming di youtube biasanya saya lebih suka mendownload musik. Kegemaran saya akan musik ini mungkin karena yai (sebutan kakek) juga sangat menyukai musik. Hanya saja beliau berbakat di musik, sedangkan saya tidak. Beliau bahkan merupakan salah satu dosen seni musik di salah satu universitas negeri di Jakarta. 

Seperti halnya drama korea, awalnya saya memandang music korea tidak ada apa-apanya dibanding penyanyi dan musisi Amerika. Ternyata saya salah besar, music korea tidak melulu digandrungi karena tarian unyu-unyu dan penyanyi yang tampan dan cantik. Ada beberapa penyanyi yang cukup bagus pula ternyata, apalagi jika kita menonton ajang pencarian bakat musiknya, saya acungi jempol. Ada beberapa pula yang pandai sekali mengaransemen music sehingga asik didengar. Bahkan penyanyi Indonesia Gammaliel dan Audrey pun pernah mengcover lagu korea Heaven yang dinyanyikan oleh Ailee.

Hal yang saya kagumi dari Korea salah satunya adalah kegigihan. Untuk mempersiapkan debut mereka bahakan melakukan persiapan latihan yang cukup lama (bahkan bertahun-tahun). Mungkin kegigihan dalam berusaha inilah salah satu hal yang patut di contoh Indonesia jika ingin semaju Korea (cmiiw). Meskipun ada pula yang memang murni memiliki bakat seperti Choi Sung Bong. Saya ikut terharu membaca riwayat hidupnya, yang besar di jalanan.

Berikut saya sertakan link beberapa video yang saya sukai. Selamat menonton ;D 

Audisi Choi Bong Sun




Video Clip Yoseob dan Eunji


 Audisi Kpop Star

Akdong Musician  (Rolling in the deep cover mix)


Audisi Shin Jihun
(fall too deep with her voice :D)



Lee Hi in Kpop Star





Senin, 02 Februari 2015

Rumah


Kalau melihat kemacetan di Bekasi dan Jakarta yang selalu dijumpai dulu saya sempat terpikir suatu saat nanti rasa rasanya ingin deh punya rumah di desa. Namun pemikiran saya berubah saat saya benar-benar merasakan sendiri tinggal di desa saat KKN di kecamatan Cikoneng, dan PKL di dalam perkebunan di Jawa Barat.

Fasilitas kesehatan di sana masih begitu minim. Di Desa Cikoneng, jalanan besarnya masih berbatu kasar berundak-undak bahkan sangat sulit untuk dilewati angkot. Di kecamatan seluas itu pun hanya tersedia satu perawat, bukan dokter. Boro-boro memikirkan KJS sebagai jaminan kesehatan. Bagaimana kelak jika tiba-tiba anggota keluarga ada yang sakit berat ataupun hendak melahirkan?

Di sana saya merasakan sendiri betapa pembangunan kesejahteraan belum merata di Indonesia contohnya bidang pendidikan. Tenaga pengajar dirasa masih sangat minim, bahkan akses menuju sekolah terbilang sangat jauh, ada yang menempuh perjalanan kaki 2 jam untuk menuju sekolah. Saya bahkan sedih saat mendengar cerita adik-adik di sana yang bekerja membantu orang tua di kebun serta masih meluangkan waktu untuk mengaji pula, subhanallah.

Tapi desa yang pernah saya kunjungi masih lebih baik ketimbang yang pernah dikunjungi adik saya, setidaknya beberapa warga di desa yang saya kunjungi sudah memiliki wc meskipun kebanyakan masih buang hajat di jamban di empang. Sewaktu adik saya praktek di salah satu di Jawa Tengah, saking banyaknya orang yang BAB sembarangan, bahkan sampai di tulis di papan dilarang BAB di sini.

Saat tinggal di dalam perkebunan Malabar untuk menuju pasar harus ditempuh waktu satu jam menggunakan motor ataupun kendaraan untuk keluar dari kebun. Jadi saya dan kedua teman saya membeli kebutuhan makanan dan minum sehari hari seminggu sekali, karena tidak ada pasar, toko, maupun warung di dalam perkebunan. Bahkan saat malam hari jalanan besar menuju keluar kebun sama sekali tidak dilengkapi oleh lampu jalan, benar-benar gelap.

Namun demikian di sisi lain saya juga sangaat senang tinggal di sana, keramahan dan kebaikan hati masyarakatnya akan membuat siapapun betah. Adik saya bahkan saat pulang ke rumah diberikan dua dus oleh-oleh dari warga desa tersebut.

Seandainya saja pemerintah tidak hanya memajukan pembangunan di kota saja yah. Maka masyarakat desa pun dapat merasakan kemudahan fasilitas seperti yang kita dapatkan di kota, contohnya fasilitas kesehatan, pendidikan, sarana umum. Ternyata saya harus tetap bersyukur meskipun di jejaring sosial Bekasi dibully karena jarak tempuhnya yang jauh, udaranya yang panas, dan kemacetannya.

Rumah.
Adalah tempat berpulang.
Kemanapun jauhnya pergi, rumah akan selalu dirindukan.
Seberapa nyamannya tempat-tempat yang dikunjungi, rumah adalah tempat ternyaman.
Rumah tidak melulu berupa kata benda yang berarti tempat tinggal yang dihuni.
Rumah tidak selalu berarti sebuah bangunan.
Bagi saya pribadi rumah dapat diartikan orang-orang tersayang.
Seburuk apapun hal yang saya lakukan, mereka masih berharap saya 'pulang' dan masih menerima saya dengan uluran tangan kasih sayang.
Rumah bagi saya adalah keluarga yang saya miliki baik kini dan nanti, serta sahabat-sahabat yang begitu tulus yang saya miliki, yang saling mencintai karena Allah.

Rumah, tidak penting dimana pun lokasinya, di desa, di kota, di dekat pantai, maupun di pegunungan, semua bukan masalah lokasinya maupun besar kecilnya, yang terpenting, melainkan dengan siapa kita meninggali 'rumah' tersebut.


Kamis, 29 Januari 2015

Sepatutnya


Ada kalanya menyudahi bukan karena benci
Mungkin bukan pula karena lelah menanti yang tidak pasti
Hanya saja tau diri
Karena hati yang terlalu sering berekspetasi
Hanya akan semakin melukai

Tidak butuh penjelasan kepada mereka
Yang memang tidak tau apa apa
Tentang kita
Pembenci tetaplah mereka yang hanya selalu mencerca
Yang mencinta akan tetap membela
Percuma saja,
Mengeluarkan kata kata akan sama saja

Merasa lelah?
Ya sudahi, mudah
Mengapa membuat yang sederhana menjadi terlihat susah
Lelah mendengar? cukuplah tutup telinga
Untuk apa mempersulit dengan menjadikan diri pekak

Seharusnya berhenti tu mudah
Bukannya malah meneruskan rindu  yang tak sudah-sudah
Seharusnya


Minggu, 25 Januari 2015

Only Hope Cover


Kopi

Kopi,
Begitu pahit, begitu hitam
Gelap nan legam
Disesapmu butir manis gula tenggelam
Aromamu begitu menghangatkan
Sehangat cuplik kenangan
Serasa baru kemarin malam
Ah, tetap saja begitu gelap nan kelam, tidak ada yang kelihatan

Sabtu, 17 Januari 2015

'Melihat' Tanpa Mata

Saya tiba-tiba teringat akan seorang sepupu saya yang beberapa waktu lalu datang ke rumah diantar oleh ibu dan kakaknya. “Tumben sekali jauh-jauh datang dari Lampung ke Bekasi” demikian yang ada di benak saya, karena dibanding sanak saudara yang lain saudara saya ini terhitung jarang sekali berkunjung. Pada hari kedua menginap di rumah kami, barulah uwak (sebutan untuk kakak ayah saya, yang juga merupakan ibu dari sepupu saya) bercerita perihal kedatangannya. “kenal dokter yang bisa ngegugurin kandungan gak? S (sepupu saya) hamil” Tanya uwak kepada ibu saya. Kebetulan ibu saya adalah perawat di rumah sakit negeri di Jakarta. Tentu saja ibu saya kaget dan menolak permintaan uwak saya tersebut. “Jangan yuk (sebutan kakak) itu dosa, lagian usia kan dungannya sudah 3 bulan, sudah besar”. Tolak ibu saya secara halus.
Dalam hal ini saya tidak bermaksud mengomentari tentang hamil di luar nikah yang dilakukan sepupu saya. S berasal dari keluarga berada, masih memiliki ayah ibu lengkap yang bersedia menuruti permintaan S, termasuk dalam hal materi, juga kakak-kakak yang menyayanginya. S masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswi di Universitas di Lampung. Fisiknya sangat sempurna bahkan sangat cantik seperti bintang-bintang drama korea. Dengan semua hal yang dia miliki mengapa dia ingin membunuh bayinya sendiri? Atas dasar malu? Saya sampai kesal. Orang buta bahkan binatang sekalipun saja bisa mengurus dan menghidupi anaknya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Biar bagaimanapun yang berdosa orang tuanya bukan bayinya. Jadi salah apa si bayinya hingga harus dibunuh?
Kemarin saat  naik angkot kebetulan ada satu keluarga yang satu angkot dengan saya. Hal yang menarik perhatian saya bukanlah koper dan barang bawaan yang dibawa keluarga tersebut. Melainkan sepasang suami istri tersebut yang rupanya tunanetra. Sang suami nampaknya tidak dapat melihat sama sekali sedangkan sang istri masih bisa melihat dengan mata kirinya. Pasangan suami istri tersebut membawa serta ketiga anaknya. Atas berkah dan kuasa Allah, ketiga anaknya memiliki fisik yang sempurna, terutama putranya yang berusia sekitar 3 tahun, sungguh lucu dan tampan. Saya begitu kagum dengan kedua orang tua tersebut, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki mereka bahkan bisa jadi manusia yang bermanfaat terutama untuk ketiga buah hatinya. Sungguh keluarga kecil yang harmonis.
Saya jadi membayangkan, seandainya saya terlahir dengan keterbatasan fisik, masihkah saya sanggup menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya ataukah saya akan terus mengutuki takdir yang tidak adil dan hidup dengan kepesimisan? Seperti itu bukan sifat manusia kebanyakan? Jangankan keterbatasan fisik. Manusia yang memiliki fisik sempurna saja masih banyak yang mengeluhkan kekurangannya, merasa kulitnya kurang putih lah, ingin memiliki rambut yang lurus lah, ingin memiliki hidung mancung lah, dan masih banyak lagi. Manusia selalu merasa tidak cukup, bahkan tidak bersyukur.

Untuk melihat saja sulit, rasa rasanya mengurus diri sendiri saja akan terasa sulit apalagi harus merawat orang lain? namun sungguh tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya kedua tunanetra tersebut bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri bahkan keluarga tanpa bergantung belas kasih orang lain, sungguh besar kuasa dan kasih sayang Tuhan, bukan? Atas kuasa Tuhan hewan-hewan dapat hidup damai bahkan bisa merawat keturunannya, segala makanan sumber kehidupannya tersedia melimpah di muka bumi. Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berdoa dan berusaha. Insha Allah.