Senin, 09 Februari 2015

Use Somebody (cover)

Akhir-akhir ini lagi sukaaa banget nyanyi-nyanyi gak jelas. Akhirnya daripada mubazir, jadi saya pikir mending iseng-iseng di upload saja ke blog. Jujur saja walaupun suaranya fals, tapi semoga lumayan bisa menghibur yah ;D

.

Libuuuran

Alhamdulillah akhirnya liburaan jadi bisa sekalian refreshing.

Villa yang kali ini disewa agak unik, saya suka interriornya yang serba kayu semua, mengingatkan saya pada rumah adat Palembang. Dalam postingan ini saya sertakan beberapa foto-foto, mungkin ada diantara teman-teman yang tertarik untuk membuat interior serupa :D

kamar tidur terletak di lantai atas, mungkin sengaja diletakkan di atas agar bisa melihat pemandangan dari atas.


tampak luar dari jendela kamar


lampu di dalam kamar nampaknya sengaja didesign temaram, tidak terlalu terang, mungkin agar istirahat menjadi lebih rileks


ini adalah view dari jendela kamar yang saya foto sewaktu bangun pagi, bikin seger mata


meski designnya sangat sederhana tapi balkon ini cukup membuat betah. Dari sini kita dapat melihat aktivitas dari atas, seperti orang-orang yang sedang jogging, senam pagi, maupun anak-anak yang sedang main di taman


pemandangan taman dari atas balkon


selain kamar di atas juga terdapat ruang keluarga




sedangkan di ruang bawah dipenuhi kursi kursi untuk kumpul-kumpul. Bentuk kursinya juga unik-unik. Ruang bagian bawah ini dibatasi oleh kaca-kaca jadi bisa leluasa melihat pemandangan.





Jika dilihat dari luar, bangunan villa ini cukup menarik





di bagian luar juga terdapat gazebo

dan terakhir sebagai pelengkap tentu sajaaa.... selfie!!!
Belum afdol rasanya bila belum berselfie ria ;p





Rabu, 04 Februari 2015

Obrolan Singkat

Saat perjalanan menuju Jatinangor kemarin, hujan turun dengan derasnya, alhasil saya tidak bisa melihat pemandangan di luar karena kaca bus primajasa penuh tertutupi derasnya hujan. Di sebelah saya duduklah seorang bapak yang nampaknya hampir seusia dengan ayah saya. Karena cuaca yang sangat dingin serta ditambah ac bus yang dinginnya menusuk badan saya pun mengambil jaket di ransel yang saya bawa. Tidak lupa pula saya mengambil headset karena saat itu saya kurang mood mendengarkan lagu yang diputar oleh sang kondektur bus.

Saat sedang asik mendengarkan alunan musik yang dinyanyikan vertical horizon, bapak yang duduk disebelah saya melemparkan senyum. "Mau kemana?" Ucap beliau membuka percakapan. Mau tidak mau saya melepas headset saya dan seperti biasa yang pernah saya tulis di blog ini saya pun akhirnya diajak ngobrol. Rupanya beliau dulu seorang dosen di itb namun mengambil pensiun muda, dan sekarang menjalankan usaha kecil kecilan.

Beliau banyak memberi nasihat kepada saya, salah satunya yang saya ingat beliau menyarankan saya lebih baik membuka lapangan pekerjaan saja ketimbang menjadi pns, seperti jalan yang dipilih beliau. Bukan tanpa sebab, menurut beliau manusia yang baik yaitu manusia yang bermanfaat bagi orang lain, salah satunya dengan berwirausaha. Dengan berwirausaha kita membuka jalan rezeki bagi orang lain, selain itu kita dapat mengembangkan ilmu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Tapi semua kembali lagi ke pilihan masing-masing pribadi yang penting semua yang kita lakukan didasarkan atas pengabdian, loyalitas. Dengan loyalitas sepenuh hati semua pekerjaan akan terasa menyenangkan, tidak memberatkan. Perkataan bapak ini mengingatkan saya akan kisah hidup almarhum bob sadino.


Bapak tersebut memang tidak menceramahi saya mengenai agama secara gamblang, 'ceramah'nya mengenai agama hanya tersirat dari cerita-cerita di obrolan semata. Sebenarnya ada banyak perjalanan hidup bapak tersebut yang beliau ceritakan hanya saja terlalu banyak untuk saya tulis. Ah iya beliau juga menunjukkan foto putrinya yang cantik berjilbab. Beliau bahkan meminta saya foto bersama, untuk kenang-kenangan. "Kalau saja anak saya laki-laki, akan saya jodohkan dengan anda" demikian ucap beliau. Saya pun menimpali, "jodohin sama mahasiswanya bapak juga gak apa-apa pak" kami pun tertawa. Beliau memberikan nomornya pula untuk saya hubungi jika saya bersedia menerima tawarannya untuk memberikan penyuluhan kepada 90 ibu rumah tangga petani, mengenai pemanfaatan wortel hasil penelitian saya. Seperti biasa, sebuah obrolan ringan di bus sering menambah 'ilmu' baru dalam hidup saya, juga bertemu dengan orang-orang baru.

Selasa, 03 Februari 2015

One Last Cry Cover


Musik Korea

Demam korea lagi merajalela dimana mana sepertinya. Televisi lokal pun sepertinya berlomba-lomba untuk menayangkan drama yang berasal dari negeri gingseng ini. Tidak sedikit pula budayawan yang mengomentari invasi budaya korea yang mulai mewabah di Indonesia. Korean wave, istilah masuknya budaya korea dimana mana.

Jujur, saya kurang suka dengan tayangan sinetron Indonesia saat ini, ceritanya kurang mendidik (ini pendapat saya pribadi lho :p). Kalau lagi mau nonton drama untuk mengisi waktu senggang akhirnya saya lebih memilih menonton drama luar, misalnya Jepang, India, maupun korea. Namun akhir-akhir ini saya jadi suka nonton beberapa drama korea, beberapa ceritanya cukup bagus dan mendidik. Kadang saya prihatin juga kenapa Indonesia kok gak bikin sinetron dengan tujuan untuk mengubah pola pikir masyarakatnya yah? bukan melulu meikirkan rating semata demi tujuan komersial seperti GGS misalnya.

Saat streaming di youtube biasanya saya lebih suka mendownload musik. Kegemaran saya akan musik ini mungkin karena yai (sebutan kakek) juga sangat menyukai musik. Hanya saja beliau berbakat di musik, sedangkan saya tidak. Beliau bahkan merupakan salah satu dosen seni musik di salah satu universitas negeri di Jakarta. 

Seperti halnya drama korea, awalnya saya memandang music korea tidak ada apa-apanya dibanding penyanyi dan musisi Amerika. Ternyata saya salah besar, music korea tidak melulu digandrungi karena tarian unyu-unyu dan penyanyi yang tampan dan cantik. Ada beberapa penyanyi yang cukup bagus pula ternyata, apalagi jika kita menonton ajang pencarian bakat musiknya, saya acungi jempol. Ada beberapa pula yang pandai sekali mengaransemen music sehingga asik didengar. Bahkan penyanyi Indonesia Gammaliel dan Audrey pun pernah mengcover lagu korea Heaven yang dinyanyikan oleh Ailee.

Hal yang saya kagumi dari Korea salah satunya adalah kegigihan. Untuk mempersiapkan debut mereka bahakan melakukan persiapan latihan yang cukup lama (bahkan bertahun-tahun). Mungkin kegigihan dalam berusaha inilah salah satu hal yang patut di contoh Indonesia jika ingin semaju Korea (cmiiw). Meskipun ada pula yang memang murni memiliki bakat seperti Choi Sung Bong. Saya ikut terharu membaca riwayat hidupnya, yang besar di jalanan.

Berikut saya sertakan link beberapa video yang saya sukai. Selamat menonton ;D 

Audisi Choi Bong Sun




Video Clip Yoseob dan Eunji


 Audisi Kpop Star

Akdong Musician  (Rolling in the deep cover mix)


Audisi Shin Jihun
(fall too deep with her voice :D)



Lee Hi in Kpop Star





Senin, 02 Februari 2015

Rumah


Kalau melihat kemacetan di Bekasi dan Jakarta yang selalu dijumpai dulu saya sempat terpikir suatu saat nanti rasa rasanya ingin deh punya rumah di desa. Namun pemikiran saya berubah saat saya benar-benar merasakan sendiri tinggal di desa saat KKN di kecamatan Cikoneng, dan PKL di dalam perkebunan di Jawa Barat.

Fasilitas kesehatan di sana masih begitu minim. Di Desa Cikoneng, jalanan besarnya masih berbatu kasar berundak-undak bahkan sangat sulit untuk dilewati angkot. Di kecamatan seluas itu pun hanya tersedia satu perawat, bukan dokter. Boro-boro memikirkan KJS sebagai jaminan kesehatan. Bagaimana kelak jika tiba-tiba anggota keluarga ada yang sakit berat ataupun hendak melahirkan?

Di sana saya merasakan sendiri betapa pembangunan kesejahteraan belum merata di Indonesia contohnya bidang pendidikan. Tenaga pengajar dirasa masih sangat minim, bahkan akses menuju sekolah terbilang sangat jauh, ada yang menempuh perjalanan kaki 2 jam untuk menuju sekolah. Saya bahkan sedih saat mendengar cerita adik-adik di sana yang bekerja membantu orang tua di kebun serta masih meluangkan waktu untuk mengaji pula, subhanallah.

Tapi desa yang pernah saya kunjungi masih lebih baik ketimbang yang pernah dikunjungi adik saya, setidaknya beberapa warga di desa yang saya kunjungi sudah memiliki wc meskipun kebanyakan masih buang hajat di jamban di empang. Sewaktu adik saya praktek di salah satu di Jawa Tengah, saking banyaknya orang yang BAB sembarangan, bahkan sampai di tulis di papan dilarang BAB di sini.

Saat tinggal di dalam perkebunan Malabar untuk menuju pasar harus ditempuh waktu satu jam menggunakan motor ataupun kendaraan untuk keluar dari kebun. Jadi saya dan kedua teman saya membeli kebutuhan makanan dan minum sehari hari seminggu sekali, karena tidak ada pasar, toko, maupun warung di dalam perkebunan. Bahkan saat malam hari jalanan besar menuju keluar kebun sama sekali tidak dilengkapi oleh lampu jalan, benar-benar gelap.

Namun demikian di sisi lain saya juga sangaat senang tinggal di sana, keramahan dan kebaikan hati masyarakatnya akan membuat siapapun betah. Adik saya bahkan saat pulang ke rumah diberikan dua dus oleh-oleh dari warga desa tersebut.

Seandainya saja pemerintah tidak hanya memajukan pembangunan di kota saja yah. Maka masyarakat desa pun dapat merasakan kemudahan fasilitas seperti yang kita dapatkan di kota, contohnya fasilitas kesehatan, pendidikan, sarana umum. Ternyata saya harus tetap bersyukur meskipun di jejaring sosial Bekasi dibully karena jarak tempuhnya yang jauh, udaranya yang panas, dan kemacetannya.

Rumah.
Adalah tempat berpulang.
Kemanapun jauhnya pergi, rumah akan selalu dirindukan.
Seberapa nyamannya tempat-tempat yang dikunjungi, rumah adalah tempat ternyaman.
Rumah tidak melulu berupa kata benda yang berarti tempat tinggal yang dihuni.
Rumah tidak selalu berarti sebuah bangunan.
Bagi saya pribadi rumah dapat diartikan orang-orang tersayang.
Seburuk apapun hal yang saya lakukan, mereka masih berharap saya 'pulang' dan masih menerima saya dengan uluran tangan kasih sayang.
Rumah bagi saya adalah keluarga yang saya miliki baik kini dan nanti, serta sahabat-sahabat yang begitu tulus yang saya miliki, yang saling mencintai karena Allah.

Rumah, tidak penting dimana pun lokasinya, di desa, di kota, di dekat pantai, maupun di pegunungan, semua bukan masalah lokasinya maupun besar kecilnya, yang terpenting, melainkan dengan siapa kita meninggali 'rumah' tersebut.