"Apa yang terlihat, adalah yang ingin diperlihatkan"
Terlihat kuat namun rapuh di dalam.
Terlihat hebat namun sedih dirasakan.
Kadang yang terlihat buruk di luar justru indah di dalam.
"Hidup kamu mah enak Na, bla bla bla...."
Aamiin. Semoga demikian.
Saya hanya memilih untuk tidak membagi kesedihan dan kesusahan, andai mereka tau berapa kali aku jatuh bangun, hidupku, keluargaku.
"Hidup kamu mah enak Na".
Aamiin. Semoga demikian.
Sabtu, 05 Maret 2016
Sabtu, 05 Desember 2015
Happy working 😊
Pergi kerja hari masih gelap pulang juga udah gelap, jadi belum sempet nulis nulis buat blog 😢. Lingkungan kerjanya dan orang-orangnya sebenernya menyenangkan, tapii namanya juga hidup, tiap hal pasti ada dukanya ya kan?
Pas awal masuk kerja, kebetulan saya gak sendirian, ada 3 anak baru lainnya yaitu Adi, Hasni, dan Supandi (yupp! Saya satu-satunya cewek😂😊) terus kita dikenalin sama pegawai-pegawai divisi DPOL (seluruh ruangan di lantai 16). Orangnya banyak banget, mana hapal lah yaa cyiin.
Oiya di divisi DPOL ini dibagi jadi 2 sub divisi yaitu SPO dan SSP. Saya sendiri adalah sekretaris di subdiv SPO. Nah, di subdiv SPO masih terbagi lagi jadi 4 biro yang dikepalai oleh team leader diantaranya bpo1, bpo2, pac, dan bln. Adi ada di divisi bln, hasni ada di divisi bpo2, sedangkan supandi kalo gak salah dia anak SSP. Pasti kalian bingung kan dengan istilah-istilah yang baru saya jelasin? Hahaha sama kok, saya juga masih belum ngerti sebenernya 😂.
Saat tau keterima kerja di bank, awalnya saya ngira bakal ketemu nasabah gitu, eh ternyata kerja di kantorannya, bener-bener jauh deh dari bayangan saya sebelumnya.
Sekilas saat ikut meeting kemarin, akhirnya saya ngerti dikit-dikit mengenai gambaran divisi DPOL (Divisi Pengembangan Operasi Layanan). Secara garis besar, menurut saya divisi ini kalo dalam perusahan mungkin mirip RnD (Research and Development) yang tugasnya untuk selalu menciptakan inovasi baru, mungkin bedanya kalau di perusahaan inovasinya berupa produk yang bakalan di sales atau dipasarkan, nah sedangkan di DPOL ini inovasinya bisa berupa sistem maupun aplikasi yang kelak disosialisasikan atau di aplikasikan ke bank-bank cabang maupun kcu (kantor cabang utama). Udah ah pengenalannya, saya juga gak belum ngerti-ngerti amat sebetulnya.
Jadi gini, kemarin saya ikut meeting dengan team bpo2 atas mandat ibu bos. Terus ikutlah saya, dengan deg-degan tentunya. Nervous. Kata mba metty salah satu anggota team kita rapat di ruang meeting di ruang papua. Saya ngikut aja deh akhirnya, ternyata ruang meeting papua ada di lantai 12. Sampai di ruang meeting saya cukup amazed dengan waiter-waiternya yang seragamnya rapi ala ala bartender gitu, hahaha iya saya norak deh, haha. Setelah ngumpul rapat dimulai. Ternyataaa, jreng jeng jeng rapatnya jauh banget dari kata formil kebanyakan bercandanya, pokoknya fuuun bingits 😊. Karena di situ ada dua anak baru, saya dan Hasni, jadi kita disuruh perkenalan diri di depan mereka. Sumpah koplak banget, mana pertanyaannya ngaco-ngaco😂 sampai ditanya status dan kriteria idaman 😅. Oiya Hasni ini sebagai design grafis di team, kebetulan doi emang lulusan design grafis dari Trisakti. Kebanyakan di team tim tuh yang suka ngelucu adalah koko acay (mungkin karena chinnese jadi dipanggilnya koko alias kak). Anak-anak team secara langsung nanyain agama saya dan Hasni (oiya kita berdua muslim) mereka nasehatin sambil ketawa tentunya, hati-hati kalo dapet makanan dari ko acay, kalo makanan halal belum tentu halal, mau itu cuma pie sekalipun 😂.
Karena baru pertama kali ikut rapat sama team bpo2 saya masih awam dengan beberapa project mereka. Begitupun Hasni, jadinya kita banyakan ngobrol berdua udah kayak pacaran aja *ehh hahaha. Beres meeting dapet nasi box, kan lumayan banget menghemat duit makan siang ye kan? Hihihi 😆. Oiyaa ada satu hal lagi yang bikin saya happy..kemarin ko acay nanyain apa saya udah punya paspor atau belum, karena di dpo2 suka pergi tugas gitu kan, sekitar dua bulan yang lalu team bpo2 ke Bangkok. Aak mata saya langsung belo, nan berbinar-binar. Saya Seneng bangget. Hehehe. Mudah-mudahan meeting dengan biro team lain juga seasyik ini yak, amiiin 😊.
Pas awal masuk kerja, kebetulan saya gak sendirian, ada 3 anak baru lainnya yaitu Adi, Hasni, dan Supandi (yupp! Saya satu-satunya cewek😂😊) terus kita dikenalin sama pegawai-pegawai divisi DPOL (seluruh ruangan di lantai 16). Orangnya banyak banget, mana hapal lah yaa cyiin.
Oiya di divisi DPOL ini dibagi jadi 2 sub divisi yaitu SPO dan SSP. Saya sendiri adalah sekretaris di subdiv SPO. Nah, di subdiv SPO masih terbagi lagi jadi 4 biro yang dikepalai oleh team leader diantaranya bpo1, bpo2, pac, dan bln. Adi ada di divisi bln, hasni ada di divisi bpo2, sedangkan supandi kalo gak salah dia anak SSP. Pasti kalian bingung kan dengan istilah-istilah yang baru saya jelasin? Hahaha sama kok, saya juga masih belum ngerti sebenernya 😂.
Saat tau keterima kerja di bank, awalnya saya ngira bakal ketemu nasabah gitu, eh ternyata kerja di kantorannya, bener-bener jauh deh dari bayangan saya sebelumnya.
Sekilas saat ikut meeting kemarin, akhirnya saya ngerti dikit-dikit mengenai gambaran divisi DPOL (Divisi Pengembangan Operasi Layanan). Secara garis besar, menurut saya divisi ini kalo dalam perusahan mungkin mirip RnD (Research and Development) yang tugasnya untuk selalu menciptakan inovasi baru, mungkin bedanya kalau di perusahaan inovasinya berupa produk yang bakalan di sales atau dipasarkan, nah sedangkan di DPOL ini inovasinya bisa berupa sistem maupun aplikasi yang kelak disosialisasikan atau di aplikasikan ke bank-bank cabang maupun kcu (kantor cabang utama). Udah ah pengenalannya, saya juga gak belum ngerti-ngerti amat sebetulnya.
Jadi gini, kemarin saya ikut meeting dengan team bpo2 atas mandat ibu bos. Terus ikutlah saya, dengan deg-degan tentunya. Nervous. Kata mba metty salah satu anggota team kita rapat di ruang meeting di ruang papua. Saya ngikut aja deh akhirnya, ternyata ruang meeting papua ada di lantai 12. Sampai di ruang meeting saya cukup amazed dengan waiter-waiternya yang seragamnya rapi ala ala bartender gitu, hahaha iya saya norak deh, haha. Setelah ngumpul rapat dimulai. Ternyataaa, jreng jeng jeng rapatnya jauh banget dari kata formil kebanyakan bercandanya, pokoknya fuuun bingits 😊. Karena di situ ada dua anak baru, saya dan Hasni, jadi kita disuruh perkenalan diri di depan mereka. Sumpah koplak banget, mana pertanyaannya ngaco-ngaco😂 sampai ditanya status dan kriteria idaman 😅. Oiya Hasni ini sebagai design grafis di team, kebetulan doi emang lulusan design grafis dari Trisakti. Kebanyakan di team tim tuh yang suka ngelucu adalah koko acay (mungkin karena chinnese jadi dipanggilnya koko alias kak). Anak-anak team secara langsung nanyain agama saya dan Hasni (oiya kita berdua muslim) mereka nasehatin sambil ketawa tentunya, hati-hati kalo dapet makanan dari ko acay, kalo makanan halal belum tentu halal, mau itu cuma pie sekalipun 😂.
Karena baru pertama kali ikut rapat sama team bpo2 saya masih awam dengan beberapa project mereka. Begitupun Hasni, jadinya kita banyakan ngobrol berdua udah kayak pacaran aja *ehh hahaha. Beres meeting dapet nasi box, kan lumayan banget menghemat duit makan siang ye kan? Hihihi 😆. Oiyaa ada satu hal lagi yang bikin saya happy..kemarin ko acay nanyain apa saya udah punya paspor atau belum, karena di dpo2 suka pergi tugas gitu kan, sekitar dua bulan yang lalu team bpo2 ke Bangkok. Aak mata saya langsung belo, nan berbinar-binar. Saya Seneng bangget. Hehehe. Mudah-mudahan meeting dengan biro team lain juga seasyik ini yak, amiiin 😊.
Jumat, 13 November 2015
"untuk selamanya"
Bagi sebagian pria, gombalan
mungkin sudah seperti jadwal makan yang wajib dilakukan minimal 3 kali sehari.
Gak semua sih, tapi mayoritas demikian.
Hey tuan, jangan terlalu
gegabah menjanjikan kata 'selamanya' padaku. Masih untung engkau melontarkan
kata-kata keramat itu padaku, karena aku tidak pernah mengambil serius
kata-katamu. Terlalu banyak asam garam yang kutelan hingga perutku kembung.
Gombalanmu itu bahkan tidak ada seujung kukunya. Jadi tenang saja aku tidak
akan menganggapnya sebagai janji yang harus kau tepati, sebagaimana layaknya
janji adalah hutang yang akan ditagih di akhirat nanti.
Namun coba engkau pikirkan,
bagaimana dengan gadis-gadis lugu nan naif yang mendengarnya? Engkau membunuh
sesuatu yang disebut harapan, kebahagiaan, yang mungkin nampak sepele di
matamu. Jangan, jangan hancurkan hidup mereka sayang, dengan segala janji
manismu. Setidaknya ingatlah ibumu. Engkau dilahirkan dari rahim seorang wanita
pula bukan?
Aku serius.
Aku jujur.
Itu katamu.
Ah sayang, andai engkau tau
betapa inginnya aku percaya pada pernyataanmu, melebihi kepercayaanku pada
sejumlah fakta yang ada di ponselku, bukti nyata yang dapat mengubah senyum di
wajahmu menjadi pucat pasi seketika.
Oh ya, penasaranku belum
terjawab.
Jadi, aku adalah targetmu
yang nomor ke berapa?
Ehehehe, aku bukannya skeptis
memandang istilah cinta. Demikian pula aku melihatmu, bagiku kamu bukan orang
jahat. Sedikit banyak kamu mirip denganku. Kita serupa.
Aku, pun kamu, hanya belum
menemukan seseorang yang menyadarkan kita untuk terus komit dengan komitmen.
Seseorang yang membuat kita bersedia dengan tulus memberi, kendati kita tidak
menerima apa-apa darinya.
Kudoakan dengan tulus agar
engkau segera menemukan orang yang kau butuhkan dan inginkan. Sesuai keinginan
dan harapanmu.
Meski sosok itu bukan aku :).
Karena tipemu adalah wanita
yang nampak jelita dengan jilbabnya.
Karena tipeku adalah dia yang
hanya menjadikanku sebagai satu-satunya, bukan sebagai pilihan, pun cadangan.
Karena tipeku adalah dia yang
menyukai wajah bangun tidurku yang tentu saja tanpa riasan make up.
Karena tipeku adalah dia yang
mau sama-sama belajar bersamaku mencintai Tuhan, bukan dia yang mencari wanita
dengan segala kesempurnaan.
Karena tipeku adalah dia yang
mungkin tidak bisa menjanjikan jaminan kebahagiaan, namun selalu bersedia setia
di sampingku saat senang dan sedih.
Karena semua sifat itu tidak dapat
aku lihat dalam dirimu.
Meski sejujurnya aku
berbunga-bunga setiap mengobrol denganmu.
Meski senyumku mengembang
setiap melihat namamu tertera saat ada pesan masuk di ponselku.
Meski tidak dapak dipungkiri,
aku tetap jatuh cinta, meski kutepis kuat-kuat perasaanku.
Ya, aku jatuh hati kepadamu.
Padahal bukan cuma kamu satu-satunya yang mendekatiku.
Padahal aku tau kata-katamu hanya gombalan belaka.
Padahal aku tau, aku bukanlah satu-satunya.
Senin, 09 November 2015
Impian
A : hmm...gimana kalo
sekarang aku udah gak punya impian?
B : emang kamu gak kepingin
nikah? (Sambil ketawa sampe keselek)
A : ih, aku serius lho, ini
bukan soal masalah cinta cintaan, aku yang sekarang udah engga punya impian.
Wisuda pun aku ngerasa datar, gak ada bahagia-bahagianya.
B : (masih sambil ketawa) gak
ada asep kalo gak ada api, emang kenapa sih tiba-tiba bilang gitu?
A : gak apa-apa
B : kalimat "gak
apa-apa" nya cewek itu lebih nyeremin dari film horor lho.
A : elah, kayak yang iya aja
nonton film horor, palingan juga nonton bokep, hahaha
B : naah itu tau, hahahaha
Teman, emang sih obrolannya
sungguh tidak mutu, juga gak bikin pertanyaan saya terjawab, pun tidak serta
merta menyelesaikan persoalan saya. Tapi satu hal, mereka selalu berhasil membuat
saya tersenyum di hidup yang sedang berat-beratnya. :)
Berjuang, Memperjuangkan
Ada satu adegan di sebuah drama korea yang cukup saya
ingat Dream High judulnya, dikisahkan ada tokoh wanita bernama Pil Sook dan
tokoh pria Jason. Pil Sook adalah gadis gemuk namun pandai bernyanyi serta
bersuara merdu yang mengagumi Jason si Mr Perfect. Suatu hari Pil Sook
menyatakan cinta ke Jason, yang ditolak Jason dengan alasan menganggap Pil Sook
sebagai teman. Kemudian Pil Sook bilang begini, aku akan berdiet 100 hari, lalu
aku akan menyatakan cinta padamu. Perlahan waktu pun berlalu hingga lewat seratus
hari, Pil Sook juga sudah bermetamorfosa menjadi gadis cantik, dan tentu saja,
langsing. Jason mulai jatuh cinta pada Pil Sook, berawal dari penampilan,
hingga akhirnya Jason menyukai semua hal tentang Pil Sook, termasuk kecantikan
hatinya. Jason pun menunggu-nunggu pernyataan cinta yang telah dijanjikan Pil
Sook. Sayangnya, pernyataan cinta itu tidak kunjung muncul dari mulut Pil Sook.
Hingga akhirnya Jason habis sabar dan menanyakan langsung pada Pil Sook mengapa
Pil Sook mengingkari janjinya dan tidak jadi membuat pernyataan cinta.
Inilah jawaban Pil Sook seingat saya.
"Kau tau aku berjuang keras diet hingga seperti
mau mati rasanya, namun aku selalu mengingatkan diriku untuk berjuang demi
Jason. Tapi sekarang aku sadar kau tidak seberharga itu untuk kuperjuangkan.
Jadi aku menyerah."
Kok malah cerita sinopsis drama gini sih Na? Apa
maksudnya?
Justru inilah maksud yang mau saya sampaikan. Silakan
pembaca berinterpretasi sendiri yaa ;)
:
:
:
Krik
Krik
Krik
Mmm, nggak gitu deh sebenernya.
Saya pernah begitu memperjuangkan seseorang hingga
saya mengabaikan diri saya sendiri, hidup saya.
Hingga akhirnya saya sadar, bahwa kamu, lautan kata,
ternyata tidak selayak itu untuk saya perjuangkan. Bukan, bukan menyesal, lebih
tepatnya saya menyerah.
Kemarin, saat semua orang bahagia dengan kesakralan
prosesi wisuda. Saya hanya memandang kosong ke depan. Ke depan?? Bukan, saya
memandang kehidupan saya ke belakang. Iya, saya teringat kamu. Kamu yang
terlalu cepat menyerah untuk memperjuangkanku.
Minggu, 08 November 2015
Nostalgia
Pikiran lagi sungguh semrawut belakangan ini, saking
bingungnya mau cerita apa hingga akhirnya saya memutuskan lebih baik diam. Oh,
ya, kabar baiknya saya baru saja menuntaskan satu daftar ceklis kebahagiaan…mereka.
Tidak apa, toh kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya juga.
Saat senggang saya membaca postingan-postingan (yang
syukurnya) yang belum saya hapus dari
blog. Sungguh tidak berbobot, tidak seperti blog-blog pada umumnya. Tidak apa J.
Saya tidak berbakat menulis. Namun saya sangat suka menulis.
“I write to express, not to impress”, mengutip kata dari
akang senior saya di kampus. Itulah kurang lebih yang saya rasakan saat
menulis.
Hhhmm, sedang tidak semangat untuk berpuisi, menyanyi,
berargumentasi.
Sedang berupaya lebih banyak mendengarkan, memahami, dan
belajar ketimbang berbicara. Karena berbicara sungguhlah lebih mudah ketimbang
mempraktekkan. Hahaha, oke, oke ucapan barusan boong banget. Seperti biasa saya
bakal tetep cuap-cuap kok di blog ini J.
Jika membaca tulisan-tulisan saya, mungkin sepintas saya nampak
seperti orang baik.
Saya memang orang baik kok. Hehehe, enggak deng. Saya
manusia pada umumnya kok. Yang tentu saja punya segudang salah dan khilaf,
banyak malah, hahaha.
Sebentar lagi saya akan meninggalkan Jatinangor, kota yang
mungkin tidak tersohor, karena bisa dibilang hampir tidak ada tempat rekreasi
di sana.
Oke, ujung-ujungnya saya curhat deh, gak papa kan yah? Kan
ini blog saya J.
Pertama kali menginjakkan kaki di kota ini saya menangis di
kostan. Kalo sekarang dipikir-pikir, hih, sungguh cengeng sekali. Hingga
akhirnya saya menemukan keluarga baru di kostan yang sungguhlah lebih membuat
saya betah ketimbang di rumah sendiri. Nia, teman seangkatan sekaligus
seperjuangan sesama Maba (Mahasiswa Baru) yang tinggal di kamar depan saya.
Saya belum pernah menemui teman sebaik, setulus, serajin, dan sesholehah Nia,
(ini pujian jujur dari lubuk hati terdalam lho). Dan keluarga berikutnya yaitu
kakak-kakak dari berbagai angkatan dan fakultas yang kemudian sudah seperti
kakak kandung sendiri, mereka adalah Teh Feni, Kak Henri, Kak Tri, Kak Seniman,
dan Kak Bakhtiar. Betull, penghuni kostan ini sungguh sedikit, tapi karena
sangat sedikit (3 cewek dan 4 cowok) itulah
yang membuat kami akrab seperti keluarga. Contohnya saja Kak Seniman dan Kak
Tri yang tidak pernah marah meskipun selalu saya dan Nia jahili. Eh tapi mereka
juga jahat sih kadang-kadang, para lelaki itu tidak mau mengajak saya dan Nia
jalan-jalan ke Bukit Bintang di Bandung meskipun kami merengek-rengek. “Itu tuh
tempat mesum”alasan mereka. Hih, lantas mereka ngapain ke sana dong kalo gitu??
Dan yang semakin bikin muka ditekuk tau-tau pulangnya mereka pamer bill makan
di Gampung Aceh. Iya, mereka pun jahat selayaknya kakak kandung juga. Saya berkali-kali merayakan pergantian tahun
di Jatinangor ketimbang di rumah. Acara sederhana, hanya bakar-bakaran dan
nyewa infocus buat nonton layaknya nonton layar tancep. Padahal saya dan Nia
ujung-ujungnya gak ikutan nonton, karena banyakan tutup mata, ataupun kabur ke
kamar, karena film yang mereka sewa ternyata genrenya horror…semua!! Ngeselin
kan? Tapi saya kangen masa-masa itu L.
To be continue, lanjut ke Part 2 kalo saya sempet, ingat dan….mood
nulisnya J.
Sabtu, 03 Oktober 2015
Somewhere Only We Know
Kepada engkau yang selalu
berkata menyukai hujan
Meskipun kulihat dimatamu ada cemas takut kebasahan
Selalu kusajikan senyum tulus
terhangatku
Engkau takkan pernah tau
Karena tangisku tak membahana
Hanya isak tanpa suara
Tidak apa
Begitu banyak lagu yang
kulantunkan tanpa gema
Mereka bilang alunannya
menyesakkan jiwa
Namun engkau selalu
mendengarkannya dengan terpana
Berulang kulantunkan meskipun
terasa luka
Ajak aku tuan
Ke tempat dimana hanya ada
bahagia
Mungkin di sana ada penawar
duka
Kan kupersembahkan lagu
jenaka
Tentu saja tanpa cerita
tentang dia
Langganan:
Postingan (Atom)

