Kamis, 26 Maret 2015

Que Sera Sera

Dulu sewaktu kecil saya pernah berpikiran seperti Dipo seperti yang ditulis Bang Pandji dalam blognya. “Ayah selalu berdoa semoga aku jadi anak yang penurut dan pintar. Tapi seandainya aku gak pintar gimana yah? “

Dari kecil kita diberi wejangan “belajar yang rajin yah nak, supaya pintar”. Nah, kalau sudah rajin belajar tapi tak kunjung pintar-pintar gimana? Hehehe. Entahlah sampai saat ini saya percaya bahwa kepintaran maupun kecerdasan setiap orang berbeda beda. Bagi saya di dunia ini tidak ada orang yang bodoh. Semua yang diciptakan Allah tentu ada manfaatnya, sekalipun seekor semut. Saya rasa yang namanya pintar maupun cerdas gak melulu mengenai nilai akademis. Orang yang nilai akademisnya anjlok saya rasa bukan berarti dia bodoh, seperti kata bang Pandji dalam stand up comedynya yang berjudul Mesakkke Bangsaku. Seseorang tidak pandai dalam satu hal, contoh dalam akademis, bukan berarti dia bodoh, mungkin kepintarannya ada di bidang lain, misalnya entah itu gambar, olahraga, presentasi, nyanyi, nulis, maupun lainnya. Contohnya saya, kendati tidak pintar dalam hal nulis maupun nyanyi, entah kenapa saya tetap keukeuh hobbbbby postingin entah itu coveran lagu, maupun tulisan artikel meskipun trafficnya gak tinggi, hahaha, bisa dibilang over pede. Kenapa saya tetap keukeuh dan pede posting ? hmmm kenapa yah? saya rasa di dunia ini banyak hal yang awalnya kita tidak bisa akhirnya kita penjadi pandai asal mau di-giat-i dengan usaha, toh kita terlahir ke dunia saat bayi dalam keadaan tidak bisa apa-apa, hingga akhirnya kita bisa beraktivitas ini dan itu. Guru paling berharga adalah pengalaman, hal yang tidak selalu didapat dari bangku sekolah. Semua hal bisa dipelajari, itulah hal yang saya coba yakini, seperti contohnya video di bawah ini.


Berikut di bawah ini saya copykan isi artikelnya falla adinda, tentang harapan seorang ibu tentang anaknya saat sudah besar kelak. Di dunia ini mana ada ibu yang gak pingin anaknya jadi anak yang pintar. Namun ada satu lagi yang diinginkan setiap orang tua, yakni melihat anaknya bahagia dengan keputusan yang diambilnya J  :).


memiliki suami pintar memang berkah tersendiri sih. Track record suami ketika SMA yang juara olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional membuatku lega kalau-kalau suatu hari nanti Kakak tidak mengerti mengenai pelajaran sekolahnya. Aa berhasil lulus SPMB dan masuk ke salah satu fakultas terbaik di Indonesia, lulus tepat waktu dan masuk residensi pun tepat waktu. Lega? iya. Karena saya tau, anak saya punya sosok Romo yang bisa ia andalkan.

..

Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.

Namun, didikan orang tua saya adalah 'bertanggung jawab', artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.

Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk pelajaran biomedik 1 dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya...)

Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum bel, keluar tepat setelah bel. Berkumpul dengan
 gank selepas kelas, main ke mall di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan kedokteran dan sibuk pacaran.

Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro-boro maju ke depan karena dianggap sebagai mahasiswa berprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan dokter spesialis; semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.

Ya.. Intinya sih, saya ini adalah perempuan dengan kemampuan akademis biasa-biasa saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.

--


"Kak Kiko..... Jadi anak pinter ya, Nak.. Kaya Romo.." Begitu doa hampir sebagian besar orang yang mengusap kepala anak saya. Alih-alih disebut seperti ibunya (tunggu, memang Ibunya seperti apa?). Semua doa tersebut saya aminkan dengan baik, siapa sih Ibu yang tidak senang melihat anaknya mendapat gelar akademik membanggakan?

...

Tapi bagaimana jika tidak? bagaimana bila ternyata....
Kiko mewarisi kemampuan persis seperti saya?
Apa artinya anak saya telah gagal?


---



Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja ia Rafi.
Rafi ini 2x tidak naik kelas di SMA. Iya, bukan sekali, namun 2x. Lulus SMA dengan susah payah, Rafi melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, mengambil mata kuliah komunikasi. Dengan susah payahpun, akhirnya ia lulus dari kampus tersebut.

Tapi percayalah, Rafi adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Rafi bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapunkecuali akademis.

Rafi hanya memiliki 1 kekurangan, ia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena ia tak mau, tapi juga karena ia tak bisa.

Lalu, Rafi jadi apa?
Rafi hari ini adalah jajaran
 eligible bachelor  di Indonesia, ia memilih karir sesuai yang ia ingin yang jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Ia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang dokter. Sosoknya juga sering wara wiri di televisi dan berbagai forum. Hebatnya, Rafi beberapa kali didaulat sebagai dosen di universitas ternama di Indonesia. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis SMA super baik? :)


dan yang terpenting, ia bahagia.
Ia tidak gagal.
dan ia tidak bodoh.


---

Kembali ke Kak Kiko.
Apabila suatu hari nanti didapati ia tak sepintar Romonya dan memilih menjadi mirip Rafi yang suka sekali hore-hore, ku pastikan ia bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang lebih penting lagi..

Kiko harus tumbuh menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Ia tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat orang tuanya yang seprofesi. Ia tidak boleh terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap Romonya.
Kiko harus menjadi seorang anak yang merdeka. Ku pastikan ia akan menjadi apapun yang ia mau, sejauh ia bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa ia memilih jalan itu.
Kiko harus menjadi anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tuanya, tak apa tak dianggap pintar,
yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas,
tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.

Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu,
tapi bagaimana Kiko bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana Kiko bisa berdiri tegap tentang apa yang dipilihnya,
walau ia tak mirip Romonya, maupun Ibunya.



Belajar [lebih] Bersyukur

Kadang suka sebel juga sih kalo ada orang yang hidupnya (tanpa dia sadari) tergolong beruntung tapi kerjaannya ngeluh melulu, bawaannya pengen dijitak aja, hahaha. Banyak berita duka di sekitar saya akhir-akhir ini, akhirnya jadi ikut-ikutan baper mellow dan sensitive. Emang dasar sayanya aja yang cengeng sih itu mah, hehe. Sempat baca link berikut ini. Isinya kurang lebih menceritakan sisi lain dari kemeriahan konser One Direction. Ada sebagian orang yang nangis dan ngambek karena gak berhasil melihat personil boyband kesayangannya lantaran kehabisan tiket. Ternyata di balik kemegahan konser tersebut terselip kisah yang kalau menurut saya pribadi sih lebih sedih.


(kutipan berita dari Tempo.coonline)
Adalah Pak Rohmana, 56 tahun, pedagang musiman. Dengan lutut gemetaran, ia berjalan perlahan sambil menjajakan dagangannya. Saat seseorang membelikan air minum kemasan botol dan bakpao, ia langsung menangis.
Sejak datang dari Ciamis pukul 06.00 pagi, ia belum makan apa pun. “Perut cuma saya minumin terus. Kalau makan sayang, minum paling Cuma Rp 2 ribu. Di sini semua mahal,” kata dia.
              
  Cukup miris kan? Tapi pemandangan seperti ini sudah tidak asing tentu bagi kita, setidaknya di sekitar saya. Contohnya seperti kisah Almarhum Pak Toha penjualtali sepatu di gerbang lama Unpad. Teman-teman alumni Unpad pasti sudah tidak asing dengan Pak Toha ini.

Saya jadi ingat saat kemarin ada penjual keripik yang menawarkan dagangannya pada saya. Karena saya lihat keripiknya masih banyak, jadi akhirnya saya beli. Pengen nangis rasanya saat saya membayar keripik itu, sang bapak mendoakan saya, salah satunya semoga saya jadi orang yang sukses. Padahal harga keripik yang saya beli tidak seberapa dibandingkan harga jajanan heits masa kini seperti kue cubit matcha, es krim mochi, pie susu, dll. Jika dagangan keripik seperti yang dijual bapak tersebut mulai ditinggalkan oleh masyarakat dikarenakan kalah ngetren dibanding jajanan heits, kelak pedagang-pedagang tradisional  ini mau mencari nafkah dengan cara apalagi yah?

Harga air minum mineral yang dijajakan di pinggir jalan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat lebih mahal seribu dua ribu rupiah dibanding mini market tanpa kita sadari dari sanalah pedagang asongan mendapat pundi rupiah untuk makan dan anak sekolah. Tapi gak bisa disalahin juga sih yang takut beli makanan atau minuman di jalan, mungkin karena berita di tivi jaman sekarang juga banyak yang serem-serem entah minuman dibius lah, minuman teh kemasan palsu lah, allahu’alam.


Tanpa kita sadari ada begitu banyak diantara kita, termasuk saya sendiri, kurang mensyukuri apa yang kita miliki. Padahal di luar bisa hidup nyaman seperti yang biasa kita jalani, bagi mereka adalah ‘hal-hal mewah’. Ada sepasang suami istri yang berdoa minta diberi keturunan bertahun tahun namun belum juga dikabulkan sementara di sisi lain ada yang diberi rejeki keturunan malah disia-siakan, bahkan tidak sedikit pula yang digugurkan. Ada yang merasa kurang senang dengan hidungnya yang kurang mancung, kulit kurang putih, mata kurang belo, dsb padahal bayangkan betapa berbesar hatinya orang-orang yang dilahirkan dengan fisik tidak lengkap

 Seperti itu mungkin yah sifat manusia kebanyakan, saat kekurangan atau tidak lagi memiliki, barulah terasa penting hal-hal yang sepele tadi. Aaah jadi mellooow, yuk ah semangaat, karena setiap detik kita bernafas, selalu ada hal yang dapat kita syukuri, contohnya waktu yang dihabiskan bersama orang-orang tersayang.



kisah hidup menarik dari Choi Sung Bong



Senin, 09 Maret 2015

"Belum makan kalau belum ketemu nasi"

Belakangan ini di berita tv marak sekali blow up kasus KPK vs Kapolri serta masalah Ahok vs DPRD, saya sampai jenuh banget ngedengerinnya. Untuk tagline berita di situs online, berita-berita sering saya skip saja, akhirnya lanjut baca berita yang lain. Ada satu berita yang cukup bikin saya geregetan pengen bikin artikel di sini. Yak, tentang impor beras dan ketersediaan bulog untuk pangan nasional. Karena kebetulan saya paham sedikit mengenai teknologi industry pertanian.

Pada situs harian Viva online berikut ini disebutkan bahwa Presiden Jokowi kukuh tidak akan impor beras. Beliau memerintahkan melepas stok beras di bulog untuk disalurkan di pasar. Beliau juga menambah alat dan kebutuhan produksi pertanian di daerah agar petani lebih produktif dalam menghasilkan beras.

Saat pemilu sejujurnya saya tidak sreg dengan kedua kandidat presiden. Namun beberapa kinerja Pak Jokowi ini dalam memperbaiki Indonesia perlahan menurut saya berangsur-angsur lebih baik. Yak salah satu contohnya dalam bidang pertanian seperti yang saya sebutkan di atas. Saya setuju kok jika impor beras dihentikan dengan beberapa alasan yang akan saya paparkan.

“Orang Indonesia meskipun sudah makan roti belum makan namanya kalau belum makan nasi”. Sering mendengar ungkapan ini?. Budaya makan pokok adalah makan nasi sudah mengakar kuat sepertinya di Indonesia. Entah siapa yang awalnya memperkenalkan kebiasaan makan nasi di Indonesia hingga kini menjadi budaya turun temurun.

Konon para pedagang dari Cina yang membawa budaya makan nasi ini masuk ke Indonesia. Sejak tahun 2300 SM penghuni negeri ini telah mulai mengenal nasi sebagai produk olahan dari beras melalui para pedagang Cina tersebut. Dan entah apa yang menjadi alasan utama nenek moyang kita terdahulu sehingga akhirnya memilih nasi ini sebagai makanan pokok favorit. Seiring  bergulirnya waktu tanpa disadari kesukaan ini terwariskan kepada generasi demi generasi selanjutnya untuk kemudian akhirnya menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk negeri Indonesia saat ini. Menggeser keberadaan ragam makanan pokok lain yang telah ada sebelumnya. Padahal dulu makanan pokok orang Indonesia sangaaat beragam, tidak melulu nasi, misalnya Singkong, Ubi, Sagu, Pisang, dll. Sebagai contoh, sekarang masyarakat Irian Jaya yang dulunya menjadikan sagu sebagai makanan pokok pun mulai beralih mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Jagung yang diidentikan sebagai makanan pokok daerah Madura pun perlahan bergeser menjadi nasi. Namun (sekali lagi) entah mengapa pada akhirnya masyarakat Indonesia hampir seluruhnya kini sangat menggemari nasi sebagai makanan pokoknya. Akibatnya? Kebutuhan beras kian meningkat tiap tahunnya bahkan negeri ini nyaris keteteran menanggulangi masalah tersebut yang berakhir dengan impor beras.

Maka dari itu salah satu usaha untuk menanggulangi persoalan, untuk mengurangi bahkan mencegah terjadinya impor beras, adalah dilakukannya sosialisasi diversifikasi makanan pokok. Mengedukasi masyarakat bahwa sumber makanan pokok bukan melulu hanyalah nasi. Tentunya usaha ini harus didukung penuh oleh pemerintah sehingga masyarakat bisa mulai terbiasa menjadikan selain nasi sebagai sumber karbohidrat utamanya. Diharapkan tidak ada lagi terjadi fenomena yang dianggap lazim ketika piring makan siang kita berisi menu seperti ini : nasi putih, perkedel kentang dan tumis jagung. Yang ternyata seluruhnya terdiri dari karbohidrat. Makanan pokok semua!


Membutuhkan kebiasaan baru yang mesti dilatih untuk menggantikan kebiasaan lama yang sudah mengakar. Ini bukan perkara mudah dan merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah bukan hanya sekedar menggembar-nggemborkan kebijakan diversifikasi pangan. Butuh upaya keras untuk melatih masyarakat indonesia mengubah budaya makan nasi ke makanan yang lain. Seperti gerakan “Sehari Tanpa Nasi” yang dikampanyekan oleh Walikota Depok. Gerakan One Day no Rice merupakan program yang telah digulirkan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian beberapa tahun lalu. Namun, program ini seperti mendapat momentum ketika Pemkot Depokmulai mengkampanyekan program tersebut pada 22 April 2012. Gerakan One Day no Rice adalah gerakan untuk mencerdaskan bangsa karena karbohidrat tidak hanya bersumber dari nasi saja. Gerakan ini mengajarkan kita untuk berkreasi dalam menyajikan pangan pengganti beras.

Sumber Referensi:
1. http://kisuta.com/20130517-budaya-makan-nasi-bisa-membuat-indonesia-bangkrut
2. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/11/18/0750036/Gerakan.dari.Kantin.Balaikota.Depok
3. http://ketahananpangannunukan.blogspot.com/
4. http://risablogedia.blogspot.com/2012/06/tipikal-indonesia-belum-kenyang-kalau.html
5. http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/10/bisakah-sehari-tanpa-nasi-468767.html

Rabu, 25 Februari 2015

If We Were A Movie

Drama playfull kiss ditayangin lagi di tv, waaah jadi inget jaman kkn deh. Drama ini adalah versi koreanya dari drama Itazura na Kiss yang diangkat dari komik Jepang. Dulu sewaktu kkn hampir tiap hari anak2 satu kkn nonton drama ini, abis ceritanya lumayan bikin senyum-senyum geregetan liat kisahnya oh hani sama baek seung jo. Bahkan yang cowok-cowok juga ikutan nonton. Baek Seung Jo si Mr. Perfect yang super jutek dan cuek dikisahkan sebenarnya juga suka sama oh Hani yang gak punya kelebihan. Hanya saja rasa suka Seung Jo baru diungkap di akhir-akhir cerita. Hayoo, siapa yang punya kisah serupa?

Ajaib atau entah keberuntungan saya juga gak ngerti, hihihi agak sulit dipercaya sih, pernah ada seseorang,  yang menurut saya sih sangat sempurna, ya ganteng, ya pinter, ya baik, pokoknya sempurna banget di mata saya, anehnya mau maunya jadi pacar saya yang hampir ga ada kelebihannya ini, mungkin doi khilaf kali yaak, hahaha. Yah sayangnya tapi itu duluu wahai sodara sodara. Kisah sweet happy ending mungkin cuma ada di drama drama aja seperti kata Hannah Montana di lagu If We were a Movie (Miss our old Hannah, eh Milley). Di kehidupan nyata pasti kebanyakan akan milih tipe wanita seperti Hera di Drama Playfull Kiss, wanita yang charming, nyaris sempurna. Mungkin gak semua orang sih, tapi hayoo jujur siapa sih yang gak mau nyari pasangan terbaik? hehehe iya kan?




Tapi yang namanya perasaan suka ataupun sayang kadang-kadang memang gak masuk akal sih yah. Terkadang kita sendiri juga gak tau kenapa tiba-tiba bisa berdebar-debar atau girang dalam hati, padahal cuma karena liat orang yang disuka. Mungkin itu kuasa Tuhan, yang jago membolak-balik hati manusia. Kita tentu bisa milih dengan siapa kita menikah, tapi kita gak pernah bisa mengelak kepada siapa kita jatuh hati, kurang lebih itu quotes yang pernah saya baca. Seperti kita yang bisa sayang sama orang tua kendati cerewet dan galak, hahaha. Seperti halnya kita yang sayang sama adik atau kakak meskipun berantem tiap hari, betul kan? Perasaan manusia susah ditebak, dan kadang gak berjalan sesuai logika.

Pernah saat fieldtrip ke Malang, saat nginep, malam harinya kita para cewek-cewek seperti biasa curhat-curhatan. Kebetulan saat itu ada satu teman yang sudah menikah, sebut saja C. Ada satu orang yang nanya ke C gini, "kok waktu itu lo milih laki lo yang sekarang sih, dan jujur deh, waktu itu lo cinta sama dia gak?"

Jawaban teman saya si C cukup bikin saya ingat sampai sekarang, soalnya jawabannya diluar perkiraan saya. Selama ini saya pikir seseorang bakal nikah yak kalo dia suka, terlalu naif yah?
 Si C jawab gini. Waktu itu sih sebenernya ada 2 kandidat misal A dan B (suami C sekarang). "Gue dan A saling cinta, saling sayang, cuma sifat kita berdua banyak cekcoknya, kalau berharap berubah, dan gak ada cekcok lagi yah gak mungkin, makanya walau pun gue gak terlalu cinta B, tapi gatau kenapa gue yakin aja gue bakal bahagia dan akur sampai kakek nenek sama B. Lo nikah cuma pengen satu kali seumur hidup. Kalau banyak sifatnya yang lo gak suka, secinta apapun lo sekarang, yak sulit banget buat diubah, akan ada nanti saatnya di suatu titik lo bakalan ngerasa capek dan milih berakhir aja, nah itu yang bahaya, bisa cerai. Mending sakit hatinya sekarang sebelum ada korban, yaitu anak. Dan terbukti sekarang gue malah cinta banget sama laki gue. Cinta bakal tumbuh dengan sendirinya setelah nikah kok. Percaya deh." Kata teman saya C dengan yakin. Well ada benernya juga sih apa yang dibilang teman saya ini, toh agama juga menyarankan begitu bukan? Cinta yang baik itu adalah cinta setelah akad nikah, karena halal. Saya jadi inget ada seorang sahabat saya yang bentar lagi mau nikah, tapi masih sempet-sempetnya minta tolong saya buat kepo-in mantannya, bahkan minta saran saya, soalnya dia pengen ketemu sekaliii aja, pengen ketemu mantannya itu. Jodoh memang misteri Tuhan yang sulit diterka yah?

Dari ngomongin drama korea lho kok malah jadi ngelantur gini, hahaha.

Yang jelas drama Playfull Kiss ini recommend banget buat ditonton terutama kalo lagi males nonton drama yang bikin kesel karena banyak pemeran antagonis jahat-jahatannya. Selamat menonton.

Jumat, 20 Februari 2015

Mikrohidro

“Bekasi rasa puncak” itulah status yang teman saya unggah beberapa waktu lalu. Memang saya akui beberapa hari ini hujan deras nampaknya tidak bosan untuk hadir  setiap hari. Bahkan Jakarta sudah seperti lautan. Untung tahun ini Alhamdulillah rumah saya tidak kebagian jatah banjir J. Saat musim hujan begini, rasa-rasanya segelas bandrek hangat akan nikmat diseruput di malam hari. Segelas bandrek hangat yang saya nikmati mengingatkan saya pada CV Cihanjuang yang dulu pernah saya kunjungi saat mata kuliah konversi energi. CV Cihanjuang yang terletak di Cimahi Bandung ini terkenal akan Bandrek minuman khas Priangannya. Namun yang akan saya bahas di postingan kali ini bukanlah bandreknya, melainkan mengenai mikrohidro yang juga terkenal di Cihanjuang. Mungkin saja artikel ini bisa menginspirasi teman-teman untuk meneliti ataupun mencari tau lebih dalam mengenai mikrohidro sehingga bermanfaat.

Sebelumnya apa teman-teman tau atau pernah dengar apa itu mikrohidro? Saya juga baru tau mikrohidro ini saat kunjungan langsung ke lapangan. Saat di bangku sekolah pembangkit listrik yang saya ketahui hanyalah sebatas PLTU, PLTA, dan PLTS saja. Ternyata masih ada beberapa sumber tenaga listrik yang saya tidak ketahui, yak salah satunya si mikrohidro ini. Kalau dari namanya yang mengandung kata hidro mungkin teman-teman dapat menebak bahwa tenaga listrik ini pasti mengandung unsur air. Yup, benar. Lebih tepatnya Mikrohidro atau yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air.

Di jaman sekarang manusia sudah sangat ketergantungan dengan listrik. Buktinya saja saat terjadi giliran pemadaman listrik tidak sedikit aktivitas yang menjadi terganggu, bahkan beberapa perusahaan bisa mengalami kerugian. Mati lampu alias mati listrik, sudah biasa terjadi bukan? Itulah kondisi kelistrikan di Indonesia. Meningkatnya kebutuhan akan listrik dan masalah kekurangan pasokan listrik menjadi biang keladinya. Belum lagi masalah lain diantaranya  belum semua daerah dapat menikmati listrik. Saya pernah baca kalau tidak salah menurut kementrian ESDM pada tahun 2007 masih ada 105 juta jiwa di Indonesia yang belum menikmati pasokan listrik.

Di tengah kesulitan masyarakat Indonesia mengenai pasokan listrik, maka Eddy Permadi, Direktur CV Cihanjuang Inti Teknik (Cintek), menciptakan pembangkit listrik mikrohidro. Beliau melihat potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia. Rupanya Direktur CV Cintek ini terinspirasi untuk memanfaatkan air menjadi sumber tenaga listrik setelah beliau berkunjung ke sebuah museum energi di Zurich, Swiss. Di sana, Pegunungan Alpen besar sekali potensi airnya, mikro hidro menjadi salah satu sumber energi masyarakatnya. Indoneseia, sebagai negara yang memiliki potensi air yang melimpah, seharusnya bisa seperti Swiss, itulah yang ada di benak Pak Eddy yang juga menjabat sebangai anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).

Masyarakat Cihanjuang kini tak perlu lagi membeli listrik dari PT PLN, karena sudah tersedia listrik dari PLTMH milik Cintek. Proses instalasinya kurang lebih dijabarkan seperti berikut. Aliran air dengan kapasitas dan ketinggian tertentu di salurkan menuju rumah instalasi (rumah turbin). Selanjutnya instalasi air tersebut akan menabrak turbin, lalu mengubahnya menjadi energi mekanik berupa berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut lalu dihubungkan ke generator dengan mengunakan kopling. Generator akan dihasilkan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban).


Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dibawah ukuran 200 KW digolongkan sebagai Mikrohidro. Secara teknis Mikrohidro terdiri dari  tiga komponen utama yaitu air, turbin dan generator. Perusahaan yang didirikan pada 1999 ini, hingga tahun 2007 telah berhasil memasok turbin untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) ke lebih dari 200 lokasi di Tanah Air. Mulai dari Tanah Rencong hingga Bumi Cendrawasih. Turbin air buatan Pak Eddy ini tak hanya diminati di Tanah air, tetapi juga pasar luar negeri, termasuk negara maju seperti Swiss. Sebagian dari PLTMH itu bahkan dibangun sendiri oleh Cintek, mulai dari konstruksi sipil, perlengkapan elektromekanik, transmisi dan distribusi listriknya ke masyarakat sekitar, hingga instalasi ke rumah-rumah. Kini desain produk turbin listrik PLTMH produksi Cintek sudah dipatenkan di Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM dengan nama Hanjuang. Yang menarik, keberhasilannya di bisnis produksi turbin air mendorongnya untuk menekuni bisnis baru yaitu minuman khas Jawa Barat, bandrek dan semacamnya. Adapun merek yang diusung sama yaitu Hanjuang. Kini bisnis minuman bandreknya menunjukkan kinerja yang luar biasa. Untuk yang tertarik membaca artikel info tentang mikrohidro ini dapat mengunjungi link berikut. 1, 2,  3, 4.