Kamis, 12 Februari 2015

Brondong Story


Kalo liat muka unyu-unyu Yoseob di video clip ini, kadang jadi suka inget brondong-brondong pas masa SMA deh, eiits bukan brondong jagung yak ;p. Jadi gini ceritanya saat SMA saya dan beberapa sahabat saya punya kebiasaan aneh, kami suka ngeceng adik kelas yang mukanya unyu-unyu. Salah satunya ada yang mirip Yoseob ini. Bahkan setiap salah satu dari mereka lewat sering kita suit-suitin panggil-panggil, duh kasian yak anak orang, hahaha L.

Suatu ketika sahabat saya ulang tahun sweet seventeen, saya pun iseng inisiatif mau bikin kado special yang bakal diinget. Jadi saat itu saya pura-pura mewawancara adik-adik kelas unyu itu (cita-cita jurnalis yang gak kesampaian J))) bahkan memfoto mereka juga untuk dijadikan kado ultah untuk sahabat saya ;D, kebayang banget kan betapa nekatnya? Hahaha memang.


Rupanya saya dibalas oleh sahabat-sahabat saya saat ulang tahun. Saat ulang tahun ada berondong (adik kelas kecengan saya) yang membawakan kue ulang tahun. Waaaah, saat itu bener-bener speechless dan malu. Lebih speechless lagi saat buka kado ultah di rumah. Hadiah ultah saya berupa binder strawberry pink cantik yang berisi foto plus surat cinta dari adik kelas. Bener-bener kado paling diinget lah, hahaha. Saya jadi agak nyesel, kenapa saat itu saya gak ngasih tau sahabat-sahabat saya aja yah kecengan saya yang sebenernya (*ngelunjak*), yah setidaknya orang itu bakal tau kalo saya pernah ngefans dan kagum gitu, yasudahlah, hehehe.

Selasa, 10 Februari 2015

Pendidikan yang Mencerdaskan

Saya kurang setuju dengan stigma yang belakangan beredar di masyarakat kurang lebih seperti ini “untuk apa belajar pinter-pinter toh banyak orang bisa sukses meskipun gak pinter seperti Ibu menteri Susi dan Bob Sadino”. Umumnya orang yang melontarkan pernyataan seperti ini hanyalah sebagai excuse. Karena alasan permisif jadi punya alasan untuk ngeles, sehingga malas-malasan  pun diperbolehkan karena alasan di atas.

Bob Sadino dikenal sebagai orang yang selalu menyebut dirinya goblok. Honestly, I think He is not into it. Menurut saya dia justru sangat brilian dalam pola pikir, cerdas (kapan-kapan akan saya bahas di blog tentaang Bob Sadino juga yah ;D). Cerdas menurut saya pribadi berbeda dengan pintar. Mau penggambaran lebih jelas mengenai perbedaan cerdas dan pintar? Saya sarankan untuk menonton film India yang berjudul 3 Idiot dengan pemeran utama Amiir Khan sebagai Rancho. Dalam film ini digambarkan secara pengkarakteran bahwa si cerdas ada dalam karakter Rancho. Sedangkan si pintar digambarkan dalam karakter Chatur.

Dikisahkan Seorang Profesor Guru Besar di Universitas, yaitu Virus, memiliki murid kesayangan yang pintar dan rajin belajar, murid itu adalah Chatur. Ada seorang murid yang pola pikirnya cukup nyeleneh namun selalu memiliki prestasi tertinggi di kampus, dialah Rancho. Rancho bukanlah tipe orang yang kutu buku, ataupun “belajar textbook”. Hal ini tergambar dari sebuah scene saat seorang professor bertanya apa arti mesin. Rancho menjawab dengan sederhana, sementara Chatur menjawab dengan penjelasan panjang yang rupanya merupakan jawaban hapalan yang sama persis seperti di buku. Rancho dimarahi oleh dosen tersebut karena jawaban yang diutarakan tidak sama seperti buku. Saya hapal dan ingat sekali dengan scene ini. Itulah pendidikan yang banyak terjadi di sekolah-sekolah bukan? Kebanyakan pendidikan di sekolah-sekolah mengarahkan kita textbook, pintar secara hapalan, bukan logika dan pemikiran sederhana. Dan mungkin itu pula lah salah satu penyebab mengapa Indonesia memiliki banyak siswa-siswa yang berprestasi dalam bidang pelajaran, contohnya olimpiade fisika, matematika, di luar negeri, bahkan mengalahkan negara-negara lain. Namun sayang yang bisa menemukan inovasi baru, pembaruan yang belum ada, paten,  hanya segelintir saja seperti Pak Habibie.

Jangan salahkan anaknya maupun gurunya, saya rasa system pendidikannya yang harus mulai dibenahi, patokan kompetensi keberhasilan guru dalam mendidik siswanya sudah sepatutnya tidak berdasarkan patokan ujian nasional. Ujian nasional hanya berupa angka, bagaimana jika angka tersebut tidak mewakili ilmu-ilmu yang sudah didapat selama pengajaran. Tidak semua anak mahir dan pintar di semua mata pelajaran. Setiap anak diciptakan dengan keunikan dan keahlian masing-masing, passion yang berbeda-beda pula. Ada yang mahir bahasa, berhitung, seni, olahraga. Jika siswa lemah di mata pelajaran lantas apa anak tersebut dinilai bodoh? Tentu saja tidak kan? Mungkin cara belajar di sekolahnya yang tidak sesuai, bukan siswanya yang bodoh. Saya setuju sekali dengan pendapat Bang Pandji dalam blognya berikut ini.



Saya suka dengan tema yang pernah diangkat di acara Mata Najwa 24 Desember 2014, saat roadshow di Aceh dengan tema Pesan untuk Negeriku. Di sana dihadirkan bintang tamu yang konon katanya dulu saat masa sekolah malas sekolah namun sekarang menjadi sosok yang sukses, diantaranya Dahlan Iskan, menteri Susi, Faisal Basri, dan Penyanyi Tompi. Bu Susi bahkan mengatakan bahwa memiliki ilmu yang banyak itu bagus, salah satunya belajar di sekolah, “hanya saja saya saat itu merasa bahwa saya tidak suitable dengan sekolah” demikian yang diucapkan bu Susi, seperti hal yang pernah diucapkan pula oleh Eistein. Satu hal yang sama yang saya tangkap dari rahasia kesuksesan mereka, kendati mereka tidak menyukai ilmu yang diajarkan di sekolah, mereka tetap giat belajar dan berusaha keras. Mereka sangaaat suka membaca. Bukan hanya belajar apa yang diajarkan di sekolah, mereka banyak membaca buku, entah itu tentang budaya, perekonomian, social, dll. Ada peribahasa yang mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Sungguh peribahasa yang bagus, coba jika peribahasanya begini, “sekolahlah setinggi mungkin”, maka orientasinya yang dikejar bukan lagi ilmunya melainkan angka, nilai saja, entah bagaimana pun caranya. Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat yang tidak mesti diperoleh di bangku sekolah saja bukan?






Quotes : Somebody That I Used To Know


Senin, 09 Februari 2015

Use Somebody (cover)

Akhir-akhir ini lagi sukaaa banget nyanyi-nyanyi gak jelas. Akhirnya daripada mubazir, jadi saya pikir mending iseng-iseng di upload saja ke blog. Jujur saja walaupun suaranya fals, tapi semoga lumayan bisa menghibur yah ;D

.

Libuuuran

Alhamdulillah akhirnya liburaan jadi bisa sekalian refreshing.

Villa yang kali ini disewa agak unik, saya suka interriornya yang serba kayu semua, mengingatkan saya pada rumah adat Palembang. Dalam postingan ini saya sertakan beberapa foto-foto, mungkin ada diantara teman-teman yang tertarik untuk membuat interior serupa :D

kamar tidur terletak di lantai atas, mungkin sengaja diletakkan di atas agar bisa melihat pemandangan dari atas.


tampak luar dari jendela kamar


lampu di dalam kamar nampaknya sengaja didesign temaram, tidak terlalu terang, mungkin agar istirahat menjadi lebih rileks


ini adalah view dari jendela kamar yang saya foto sewaktu bangun pagi, bikin seger mata


meski designnya sangat sederhana tapi balkon ini cukup membuat betah. Dari sini kita dapat melihat aktivitas dari atas, seperti orang-orang yang sedang jogging, senam pagi, maupun anak-anak yang sedang main di taman


pemandangan taman dari atas balkon


selain kamar di atas juga terdapat ruang keluarga




sedangkan di ruang bawah dipenuhi kursi kursi untuk kumpul-kumpul. Bentuk kursinya juga unik-unik. Ruang bagian bawah ini dibatasi oleh kaca-kaca jadi bisa leluasa melihat pemandangan.





Jika dilihat dari luar, bangunan villa ini cukup menarik





di bagian luar juga terdapat gazebo

dan terakhir sebagai pelengkap tentu sajaaa.... selfie!!!
Belum afdol rasanya bila belum berselfie ria ;p





Rabu, 04 Februari 2015

Obrolan Singkat

Saat perjalanan menuju Jatinangor kemarin, hujan turun dengan derasnya, alhasil saya tidak bisa melihat pemandangan di luar karena kaca bus primajasa penuh tertutupi derasnya hujan. Di sebelah saya duduklah seorang bapak yang nampaknya hampir seusia dengan ayah saya. Karena cuaca yang sangat dingin serta ditambah ac bus yang dinginnya menusuk badan saya pun mengambil jaket di ransel yang saya bawa. Tidak lupa pula saya mengambil headset karena saat itu saya kurang mood mendengarkan lagu yang diputar oleh sang kondektur bus.

Saat sedang asik mendengarkan alunan musik yang dinyanyikan vertical horizon, bapak yang duduk disebelah saya melemparkan senyum. "Mau kemana?" Ucap beliau membuka percakapan. Mau tidak mau saya melepas headset saya dan seperti biasa yang pernah saya tulis di blog ini saya pun akhirnya diajak ngobrol. Rupanya beliau dulu seorang dosen di itb namun mengambil pensiun muda, dan sekarang menjalankan usaha kecil kecilan.

Beliau banyak memberi nasihat kepada saya, salah satunya yang saya ingat beliau menyarankan saya lebih baik membuka lapangan pekerjaan saja ketimbang menjadi pns, seperti jalan yang dipilih beliau. Bukan tanpa sebab, menurut beliau manusia yang baik yaitu manusia yang bermanfaat bagi orang lain, salah satunya dengan berwirausaha. Dengan berwirausaha kita membuka jalan rezeki bagi orang lain, selain itu kita dapat mengembangkan ilmu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Tapi semua kembali lagi ke pilihan masing-masing pribadi yang penting semua yang kita lakukan didasarkan atas pengabdian, loyalitas. Dengan loyalitas sepenuh hati semua pekerjaan akan terasa menyenangkan, tidak memberatkan. Perkataan bapak ini mengingatkan saya akan kisah hidup almarhum bob sadino.


Bapak tersebut memang tidak menceramahi saya mengenai agama secara gamblang, 'ceramah'nya mengenai agama hanya tersirat dari cerita-cerita di obrolan semata. Sebenarnya ada banyak perjalanan hidup bapak tersebut yang beliau ceritakan hanya saja terlalu banyak untuk saya tulis. Ah iya beliau juga menunjukkan foto putrinya yang cantik berjilbab. Beliau bahkan meminta saya foto bersama, untuk kenang-kenangan. "Kalau saja anak saya laki-laki, akan saya jodohkan dengan anda" demikian ucap beliau. Saya pun menimpali, "jodohin sama mahasiswanya bapak juga gak apa-apa pak" kami pun tertawa. Beliau memberikan nomornya pula untuk saya hubungi jika saya bersedia menerima tawarannya untuk memberikan penyuluhan kepada 90 ibu rumah tangga petani, mengenai pemanfaatan wortel hasil penelitian saya. Seperti biasa, sebuah obrolan ringan di bus sering menambah 'ilmu' baru dalam hidup saya, juga bertemu dengan orang-orang baru.