Selasa, 02 September 2014

"Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu"

Sekitar seminggu yang lalu saat blogwalking saya membaca blog seorang teman, di sana dia menuliskan beberapa hal yang tidak diketahui orang, hal hal yang menurut saya merupakan prestasi yang sangat baik. Teman saya ini x, sangat cantik dan populer di angkatan saya. Hal yang saya ketahui dari blognya yaitu salah satu hobby nya adalah mengoleksi sepatu dan memakai make up, selain itu dia suka sekali mencicipi aneka kuliner yang kemudian direview untuk ditulis di blog.
Sejauh ini tidak ada yang salah, di mata saya dia salah satu orang yang sempurna, hampir tidak ada kekurangannya. Di postingan terakhir yang saya baca, dia menuliskan 'kegerahannya' akan pandangan sebelah mata orang-orang akan hobby-hobbynya tersebut. Mungkin dia merasa orang-orang mengenal sosok dia 'hanya sebagai orang yang hobbynya dandan'. Sehingga dia memaparkan begitu detil di blognya mengenai hal-hal yang orang tidak ketahui, yang tidak akan mereka sangka, yaitu prestasi-prestasi tersembunyinya. Mungkin niatannya agar orang-orang tidak lagi memandangnya sebelah mata mengenai hobbynya.
Saya tidak menyangka dibalik kesempurnaan seseorang, ternyata punya permasalahan tersendiri pula.  Pernah denger anekdot yang banyak beredar di internet bahwa apapun yang kita lakukan, orang-orang tidak akan pernah kehabisan kata untuk komentar?


Yup, banyak orang yang dengan mudahnya berkomentar negatif tentang orang lain tanpa memikirkan efek komentar tersebut baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadi inget kasus Florence tentang masyarakat Jogja. Kembali ke topik, padahal menurut saya hobby-hobby si x ini positif dan gak merugikan orang lain deh, lalu why not? jadi pandangan negatif orang menurut saya sebaiknya yah jangan terlalu diambil pusing. Kadang-kadang suka kepikiran deh kok bisa-bisanya seleb-seleb seperti syahrini, aurell, dan lain-lain kebal kuping dengering komen-komen yang sangat kasar sekali. Menurut saya pribadi sih, komentar orang-orang kalau sifatnya membangun, yah kita dengarkan, tapi kalau menjatuhkan mending pura-pura gak denger aja, "anjing menggonggong, kafilah berlalu". 

Minggu, 31 Agustus 2014

Angin Oktober

Ada embun di ufuk pelupuk
Kenapa sesakit ini?
Angin semilir pun tak terasa
Ini sudah september nona
Sampai kapankah engkau mau merengkuh daun daun yang sudah jatuh
Senja merekah sudah berubah gelap gulita

Menunggu ulat bermetamorfosa
Kukira secepat matahari berpindah menuju senja
Ulat yang mengais menaiki ujung pucuk teh
Lalu jatuh dibatas tangkai

Kemana kerelaan yang selama ini selalu engkau elu elukan?
Berdiri pongah melawan angin
Berkata engkaulah yang terkuat
Hanya topengkah?

Sebentar lagi oktober
Angin meniup niup tiap sudut dari barat hingga timur
Menurunkan para butiran tangisan awan
Mau sampai kapan?

Mencoba berdamai dengan keadaan

Balada Pelanggan Setia Prima Jasa

Primjas alias singkatan dari Prima Jasa adalah bus yang populer di kalangan mahasiswa nomaden Jatinangor-Jakarta atau Jatinangor-Bekasi. Saya merupakan salah satu pelanggan setianya. Saya biasa bolak balik Nangor Bekasi seminggu sekali atau bahkan seminggu dua kali. Kadang ada hal-hal lucu yang terjadi di bus tersebut. Tapi yang paling sering terjadi adalah saya diajak ngobrol selama perjalanan di bus oleh orang yang belum dikenal. Saya sendiri gak tau kenapa sering jadi tempat curhat orang di bus, entah memang mereka orangnya supel atau memang wajah saya yang curhat-able, entahlah, hahaha.
Pernah suatu kali ada ibu-ibu yang sepanjang perjalanan cerita panjang lebar tentang anaknya yang berkuliah di tempat yang sama seperti saya, dan sebelum ibu itu turun di tempat tujuan akhirnya ibu tersebut menanyakan apakah saya punya pacar, karena kalau belum mau dijodohkan dengan anaknya. Akhirnya saya terpaksa bohong, agar bisa menolak halus pertanyaan ibu tersebut :P. Pernah juga suatu kali saya berkenalan dengan seorang mahasiswi, kami berdua ngobrol panjang lebar selama di perjalanan, saat hendak sampai di bekasi kami pun baru saling memperkenalkan diri, dan yang membuat kaget ternyata kami berdua satu kostan, hanya saja dia berada di kamar atas, kami berdua pun akhirnya tertawa cekikikan, parah sekali, hehehe.
Kadang juga ada anak yang benar-benar supel sekali seperti yang pernah saya temui, orangnya menurut saya benar-benar cantik, dia menawari saya semua makanan yang dia bawa entah itu keripik, bolu, dan lain-lain. Dia memaksa untuk makan makanan yang dia bawa kalau tidak dia akan marah. Anaknya sungguh ceplas ceplos dan asik. Bahkan dia merequest ke kenek bus untuk diputarkan lagu dangdut koplo. Supir primjasnya pun sampai geleng-geleng kepala, baru kali ini ada penumpang yang seperti ini katanya. Bahkan kenek pun sampai bolak balik mondar mandir nimbrung obrolan kami sambil menawarkan gorengan, hahaha. Curhatan anak itu pun sebenernya menurut saya agak aneh saja, dia menceritakan hal-hal pribadi dengan entengnya, benar-benar orang yang unik.
Sebenarnya masih ada banyak tipe-tipe orang yang pernah saya temui selama di primajasa, hanya saja rasanya terlalu banyak jika ditulis di sini :). Ah iya, selain mengenal orang-orang baru, ada satu hal lagi yang saya peroleh, yaitu menambah pengetahuan lagu dangdut, iya, lagu dangdut. Dari mulai lagu rita sugiarto, ayu ting ting, lagu oplosan sampai lagu roma irama, sepertinya mulai menjadi akrab di telinga saya :D. Nampaknya hampiiir seluruh supir primajasa adalah fans berat lagu dangdut, hehehe.
Kadang-kadang kalau sedang males diajak ngobrol di bus, senjata andalan saya adalah mendengarkan lagu pakai headset, jadi bisa sambil menikmati pemandangan. Pemandangan perjalanan Jatinangor-Bekasi cukup bagus lho, ada banyak sawah-sawah, kebun teh, menikmati matahari tenggelam, pokoknya bagus deh. Oleh karena itu seringnya saya pulang pukul 4 sore, saat cuaca mulai sejuk, dan pemandangannya juga bagus, saya suka sekali kerlap kerlip lampu malam di sepanjang perjalanan, terlihat seperti bintang, cantik. Hehehe, entah mungkin saat sudah tidak di nangor lagi akan kangen masa-masa unik selama perjalanan di bus primajasa seperti sekarang ini :).
Eiits lupa, ada yang ketinggalan, selama ini yang masih menjadi teka-teki di kepala saya adalah sebenarnya apa fungsi tv lcd berlayar besar yang terpasang di depan bus primajasa. Karena selama ini yang saya tau gak pernah dipakai, cuma dianggurin begitu saja. Duh sayang banget deh, mendingan juga saya bawa pulang kalau begitu, hahaha :P.

Jumat, 29 Agustus 2014

Dunia Kerja Keras



Kemarin, kebetulan saat ulang tahun saya, saat ngumpul dengan teman-teman semasa kuliah. Kami banyak ngobrol ngalor kidul yang berakhir dengan ngomongin pekerjaan. Banyak diantara mereka padahal menurut saya pekerjaannya sangat bagus dan diidam-idamkan banyak orang. Tapi ternyata yang saya tidak sangka banyak diantara mereka yang mengeluhkan pekerjaannya dan ingin resign, bahkan beberapa sudah resign.
Sebut saja A, sahabat saya ini bekerja sebagai salah satu auditor internal di salah satu perkebunan kelapa sawit. A sering bolak-balik sumatera jawa. Dia sering curhat kalau benar-benar gak betah dengan pekerjaannya, ingin rasanya resign dan pindah kerja di daerah dekat rumahnya saja. Hal yang paling membuat saya sedih adalah bahkan berat badannya turun hingga 12 kg. Ada lagi teman saya F, sewaktu baru lulus dia sangat berfikir idealisme, seperti fresh graduate kebanyakan, hingga akhirnya kemudian dia mendapat posisi tinggi di sebuah bank ternama, tapi kemudian belakangan saya diceritakan teman saya, bahwa sekarang di tempatkan di Makassar, bahkan rasanya sekarang dia merasa agak menyesal, tapi tentu saja tidak bisa resign begitu saja karena akan kena pinalti.
Sebenarnya ada beberapa cerita lagi yang saya peroleh kemarin. Rasa-rasanya dari semua cerita yang saya peroleh, mayoritas gak betah, hingga akhirnya pindah dari satu kerjaan ke kerjaan lain, 'kutu loncat' itulah istilah yang dijuluki oleh dosen saya. Saya juga sejujurnya lumayan bingung ketika dimintai saran oleh mereka. Karena menurut saya semua pekerjaan itu memang tidak ada yang gampang, semuanya berat.
Saat di dunia perkuliahan, amat terasa sekali bahwa dosen mengarahkan para mahasiswanya untuk menjadi pencipta lapangan kerja, sehingga tidak tercipta lagi pengangguran terdidik. Masih ingatkah beberapa waktu lalu di berbagai media ramai diberitakan seorang lulusan S2 UI yang minta pelegalan suntik mati? Ikut miris yah mendengarnya. Bahkan hakim yang menangani kasus tersebut sampai ikut turun tangan untuk menasehati pria tersebut bahwa hidup jangan dijadikan beban. Saya punya satu cerita menarik, suami dari tante saya juga lulusan S2 teknik UI, dimana untuk lulusan S2 terkenal sulit mencari pekerjaan karena jarang perusahaan yang menyediakan budget lebih. Yang kemudian akhirnya beliau membuka perusahaan kecil-kecilan pembuatan bahan conveyor, sesuai ilmu yang diperoleh diperkuliahannya. Alhamdulillah sekarang usahanya sudah lumayan merambah pasar eksport.


Sewaktu lulus, banyak fresh graduate yang masih berpikiran sangat idealis. Padahal saya rasa semua pekerjaan itu adalah baik. Memang sih tidak dapat dipungkiri tidak ada pekerjaan yang ringan. IMHO, jika yang selama ini kita ambil dari perkuliahan itu ilmunya, bukan hanya sekedar ijazahnya saja, gak akan terjadi banyak pengangguran di negara kita ini. Sebagai contoh, kemana ilmu wirausaha, desain produk, menggambar teknik, yang selama ini diperoleh di perkuliahan? Padahal saya rasa berbekal ilmu tersebut cukup untuk dunia kerja maupun dunia wirausaha. Wong tukang gorengan aja bisa hidup kan dengan hanya berjualan? Memang sih gak semua orang yang berusaha memulai usaha kecil-kecilan memiliki jaminan pasti sukses, pasti ada banyak sekali proses jatuh bangunnya. Contohnya, sewaktu kuliah saya bersama teman saya pernah mendapatkan dana hibah dari salah satu bank ternama, program wirausaha muda mandiri, memang sih saya akui waktu itu banyak sekali kendalanya tapi tidak bisa saya pungkiri banyak hal juga yang saya peroleh dan pelajari. Pernah dengar kisah pengusaha ayam bakar mas mono yang terkenal itu? Dibalik semua manis yang dia rasakan sekarang banyak pula kisah jatuh bangun dibaliknya.
 Seperti yang dikeluhkan sahabat-sahabat saya bahwa bekerja itu memang sulit, tapi mungkin ada hal yang mereka lupakan, bahwa ada banyak orang yang juga jauh sangat mendambakan pekerjaan, rela berusaha bekerja keras untuk memperoleh pekerjaan. Baik mencari pekerjaan di perusahaan maupun menjadi enterpreneur saya rasa keduanya sama baiknya tapi menurut saya yang terpenting dari semua itu yah disyukuri, semua kembali ke cara pandang pribadi masing-masing.


Rabu, 27 Agustus 2014

Kado Terindah

24 tahun. Gak terasa perlahan saya makin tua yah :'). Usia 24. Usia dimana setiap manusia mulai menghitung, menghitung segala pencapaian hidup yang telah diraih. Dua ditambah dua, apakah sudah empat? Matematika hidup. Tahun ini otak saya sudah terlalu penuh oleh banyak hal yang memusingkan, rasanya tidak ada kapasitas lagi untuk menghitung. Kebanyakan menghitung mungkin malah bikin terlalu fokus pada pencapaian, jadi bikin lupa bersyukur.
Tahun ini saya masih bisa merayakan ulang tahun dengan lengkap, dengan senyuman, dengan anggota tubuh lengkap dan sehat, dengan keluarga dan teman teman lengkap, alhamdulillah. Di setiap kebahagiaan, di setiap doa, kadang saya sering takut, tahun depan masihkah saya sebahagia ini? Masihkah bisa merasakan karunia tambahan umur? Masihkah ada semua kesempatan itu diberikan Allah, seluruh peruntungan dalam hidup.
Tahun lalu ada satu hal yang cukup mengetuk hati saya. Di saat berulang tahun, sama seperti umumnya, semua orang berlomba untuk memberikan doa terbaik. Namun ada seseorang, AAS, doanya begitu sederhana. 'Hanya' semoga saya dapat tersenyum dan semakin dewasa. Kecewa? Jujur saya kecewa saat itu. Setelah semua masalah hidup yang saya lalui, saya lupa satu hal, senyum itu ternyata mahal harganya. Butuh sekian komponen kebaikan hidup, yang sesuai keinginan hati, barulah senyum terbayar.
Sekarang saya baru sadar, dia memang benar. Dia orang yang selalu sederhana dan dalam, kadang saya gak bisa ngerti jalan pikiran dia. Satu hal yang pernah dia bilang saat ulang tahun saya tahun lalu  yang saya ingat "aku tidak mengistemewakanmu. Aku hanya mengingatkan, bahwa kamu memang istimewa". Sayang tahun ini sepertinya saya tidak akan dapat lagi mendengar kata-katanya yang sederhana namun selalu dalam dan bermakna. 
Ah sudahlah, di umur yang baru ini saya kan sudah janji untuk tidak melihat ke belakang kembali. Saatnya memperbaiki semua yang sudah saya ‘rusak’, saatnya menggapai impian-impian. Belum ikhlas namanya selama semua masih terus terucap maupun teringat. Lebih baik melukis di kertas yang baru kan?
Semua hal di dunia ini memiliki deadline, batas. Bagi saya satu-satunya deadline adalah saat Tuhan sudah memanggil. Selama kita belum sampai pada masa tersebut, semua hal harus diperjuangkan, yaitu menjadi lebih baik daripada sebelumnya, saya menyebutnya hijrah. Tahun ini saya hanya bisa mengamanahkan janji kepada diri sendiri, untuk berusaha menjadi lebih baik, karena memang tugas kita untuk mengupayakan yang terbaik, urusan hasil serahkan saja pada-Nya. Dia Yang Maha Tau yang terbaik untuk kita. Rencana-Nya selalu indah, selalu tepat. Hal-hal yang kasat mata, yang mungkin menurut pandangan orang lain yang selama ini sia-sia, entah mengapa bagi saya sama sekali tidak. Pengalaman, pembelajaran, pendewasaan, saya rasa semua itu lebih tidak ternilai harganya. Dengan masalah, kegagalan, kerusakan, kehancuran, dari sanalah saya tau nilai kehidupan, sehingga memacu untuk berubah. Mungkin lebih tepatnya lecutan untuk penumbuh inisiatif dalam diri untuk melakukan perbaikan baik untuk diri sendiri maupun sekitar. Jalan masih panjang dan jauh, nikmati saja tiap detik prosesnya, pendewasaan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, anggap saja seperti Fortune Cookie. Semangat, 'Carpe Diem'!!!
Apapun yang terjadi tahun ini, selamat ulang tahun haryatna sartika pramasari, selamat atas diberi kesempatan lagi di tahun ini. Selamat menikmati kado senyuman lagi. Terima kasih ma, pa, krucil krucil nakal. Terima kasih sahabat dan teman-teman (terutama yang jauh jauh bela-belain bolos kerja demi ke nangor hehehe :p). Terima kasih semesta. Terima kasih Tuhan atas kado terindah lagi di tahun ini. Barakallah. Alhamdulillah.


terima kasih kadonya, hihiw, langsung dipake lho :p 
*abaikan pipinya yang semakin gembil*



Minggu, 24 Agustus 2014

Habis hujan

Teriring seringai pelangi cantik setia menunggu di ujung hujan reda.

Pelangi hadir di waktu yang tepat
Tiada akan ia terlambat
Selalu ada, itulah janji Sang Penciptanya.

Tuhan, sang sutradara ulung
Penulis yang handal
aku percaya

Ikhlas


Pernah meyakini melepas merpati terbaik pasti akan kembali.
Keyakinan yang menguap layak bulir bulir sungai berevaporasi
Terhisap kering menyambut riang sang kemarau
Setidaknya terima kasih untuk pernah bertandang
Kepada suatu yang kehadirannya tidak menggenapkan
Pun ketiadaannya tidak mengganjilkan

Terlalu egois memang
Aku melabelnya dengan semestaku
Terlambat melabuh
Hingga yang tersisa hanyalah puing runtuh

Tuan dengan segala kemahaan
Yang mencintai segala detil kehidupan
Pencinta ketidaksempurnaan
Terima kasih teruntuk pembuat kenangan
Pemberi kado senyuman
Maafkanlah radarku yang sudah mulai rapuh