Jumat, 21 Februari 2014

Teh Indonesia, 'Suguhan Mewah'?

                Suguhan berupa secangkir teh saat bertandang ke rumah seorang kerabat bukan merupakan hal yang istimewa. Bagaimana tidak? Hampir setiap rumah pasti memiliki persediaan teh untuk minuman di kala bersantai atau setidaknya untuk suguhan tamu yang bertandang. Saya rasa semua masyarakat Indonesia pernah mencicipi kekhasan rasa teh baik disajikan hangat maupun dingin. Harga yang relatif murah adalah salah satu alasan mengapa teh mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat, walaupun ada pula teh dengan varian harga yang cukup mahal tentunya.
                Sayang sekali beberapa waktu belakangan ini, teh, minuman segar nan eksotis ini didera isu yang tidak mengenakkan. Dalam seminar bertajuk Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia di Aula Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Ketua Dewan Teh Indonesia, Rachmat Badruddin menyampaikan bahwa bukanlah merupakan hal yang mustahil teh di Indonesia akan punah dan anak cucu kita hanya bisa mengonsumsi teh impor. Padahal komoditas ini pada masa penjajahan Belanda merupakan salah satu sumber utama pendanaan pembangunan. Hal yang cukup menyedihkan bukan?


                Teh memiliki kesan tersendiri dalam hidup saya, hehe. Sekitar setahun yang lalu saya sempat melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) yang juga merupakan salah satu mata kuliah wajib di fakultas. Kebetulan saya ditempatkan di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Malabar Kabupaten Pengalengan yang merupakan salah satu penghasil komoditi teh untuk keperluan eksport. Selama PKL di sana ada begitu banyak ilmu yang saya peroleh, tidak hanya mengenai teknis pengolahan teh di pabrik, namun juga mengenai kehidupan kebun, serta berbagai hal yang saya tidak pernah saya ketahui mengenai teh.
Ada suatu kebiasaan meminum teh yang diajarkan Pak Mulyadi, Kepala Pabrik di sana, “Kalau ingin menikmati rasa khas teh seharusnya diminum tanpa tambahan seperti gula”. Demikian anjuran beliau. Saya, dan kedua teman saya, pada awalnya agak tidak terbiasa, karena umumnya teh yang selalu dibuatkan oleh ibu kami di rumah adalah teh manis, tentu saja dengan tambahan gula. Namun setelah seminggu disuguhi teh tersebut, ternyata benar apa yang Pak Mulyadi katakan, kami justru merasa ‘ketagihan’ dengan teh tawar tersebut. Ada sensasi tersendiri di lidah, tehnya terasa sedap tanpa rasa sepat atau pahit.
Meski tidak mahir dalam menilai kualitas teh seduhan tapi kami dapat membedakan bahwa teh yang kami cicipi tersebut jelas lebih sedap dibanding teh yang selama ini kami beli di supermarket. Ternyata perkiraan kami tidak meleset. Saat berbincang-bincang dengan Pak Mulyadi, beliau bercerita bahwa teh yang selama ini paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat merupakan teh kualitas mutu III atau IV saja, sedangkan teh yang disuguhkan untuk kami ini merupakan teh kualitas II. Teh-teh dengan kualitas mutu teratas seperti mutu I dan mutu II diutamakan untuk target pasar eksport. Kami menjadi penasaran mendengar pernyataan Pak Mulyadi tersebut. Beliau melanjutkan ceritanya sembari mempersilakan kami untuk mencicipi teh yang telah dibuat oleh staff penilai kualitas teh. 
Menurut beliau, harga teh berbeda-beda tergantung kualitas mutu teh tersebut. Sehingga untuk menekan biaya produksi teh yang akan dijual agar harga jual produk akhir menjadi terjangkau, tentu saja para produsen pengolah teh kemasan menggunakan kualitas teh yang tidak terlalu mahal yaitu mutu III atau IV. Siapa yang peduli teh tersebut berasal dari kualitas berapa, toh sama sama teh juga kan? Teh buatan Indonesia yang merupakan salah satu pemasok ekspor ke berbagai negara justru tidak dicintai di negaranya sendiri. Adakah yang bersedia merogoh kantong sedikit lebih besar demi seteguk teh? Sepertinya tidak.  Ada banyak orang yang lebih rela membeli kopi dengan brand ternama, aneka cake dan minuman unik di cafe ketimbang sekedar menikmati secangkir teh berkualitas dengan harga yang sepadan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar